Showing posts with label lingkungan hidup. Show all posts
Showing posts with label lingkungan hidup. Show all posts

Wednesday, November 6, 2024

Randi Anoma: Kembalikan Kearifan Lokal yang Selamatkan Sidat

 


Apa Itu Ikan Sidat?

Ikan sidat.
Sumber: bengkulu.antaranews.com

Kenal ikan sidat? Tidak? Sama dengan aku, dong. Padahal ikan ini sangat terkenal lo, di Taiwan, Korea dan Jepang. Bahkan sebenarnya, Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor besar ikan sidat ke negara-negara Asia Timur itu.

Di tempat asalnya Naruto, ikan ini diolah menjadi unagi yang harganya mahal. Tahu unagi? Itu adalah makanan khas Jepang dengan bahan baku sidat tawar, dimasak biasanya dengan cara dipanggang di atas arang dan diolesi bumbu manis gurih.

Thursday, October 31, 2024

Andy Suryansyah, Bersama Falle Berantas Nyamuk Sehatkan Masyarakat


Hantu Dengue

Demam berdarah dengue atau DBD bagai hantu menakutkan bagi keluargaku. Tiga dari lima anggota keluargaku sudah pernah mengalami DBD. Pengalaman pertama dengan DBD dialami Faza anak pertamaku, saat dia baru berusia sembilan bulan. Patah hatiku dulu setiap kali mendengar dia menangis ngeri melihat suster mendekat untuk mengambil darah dari ujung-ujung jari kecilnya.

Aku mendapatkan ‘kesempatan’ untuk merasai penyakit ini saat baru melahirkan anak kedua. Demam tinggi, nyeri persendian dan sakit kepala hebat tidak bisa hilang dengan obat warung. Sambil menggendong bayi Izzan, aku diperiksa di IGD. Vonisnya … demam berdarah. Karena masih menyusui Izzan, aku menawar untuk rawat jalan. Dokter mengizinkan dengan catatan aku harus mau bolak balik setiap hari untuk mengetahui penurunan jumlah trombosit. Alhamdulillah setiap sore aku ke dokter untuk cek darah dan di hari ketiga diberi tahu bahwa trombo-ku sudah cenderung meningkat. Aku terbebas dari rawat inap.

Monday, October 28, 2024

Maharani, Sang Sahabat Petani Gaharu

Berkenalan dengan Gaharu

Siapa kenal pohon gaharu? Aku tidak. Betapa kudetnya aku ya, tidak kenal spesies yang ternyata seterkenal itu di dunia. Benar-benar terkenal.

Kenapa dia bisa terkenal? Yuk, simak keunikan dan keistimewaan si pohon harum mewangi ini.

Maharani dan gaharu.
Sumber: mongabay.co.id.

Tuesday, October 22, 2024

Mangrove dan Qorry Oktaviani: Dua Sejoli Lestarikan Bumi


Mangrove dan Qorry Oktaviani: Dua Sejoli Lestarikan Bumi

Mangrove, yang Terlupakan

Mangrove seringkali diabaikan karena kurangnya pemahaman tentang pentingnya ekosistem ini. Banyak yang melihatnya sebagai hutan berlumpur yang tidak memiliki nilai ekonomi langsung, sehingga sering dialihkan untuk pembangunan pesisir, seperti tambak, pemukiman, atau pariwisata. Selain itu, pengetahuan tentang fungsi mangrove dalam mencegah erosi pantai, menyerap emisi karbon, dan menjadi habitat bagi beragam spesies masih terbatas di kalangan masyarakat umum dan pembuat kebijakan.

Sunday, October 13, 2024

Rengkuh Banyu Mahandaru dan Solusi Berkelanjutan: Inovasi Alternatif Styrofoam dari Pelepah Pinang


Rengkuh Banyu Mahandaru dan Solusi Berkelanjutan: Inovasi Alternatif Styrofoam dari Pelepah Pinang

Siapa tidak kenal Styrofoam? Aku mengenal benda ringan berwarna putih ini sejak kecil, awalnya sebagai bahan pelindung alat elektronik dalam kardus, untuk mencegah kerusakan dari goncangan saat pengiriman. Siapa yang dulu suka menggores-gores Styrofoam bekas di permukaan jalan atau tembok yang kasar, lalu berpura-pura bermain salju dengan bubuk Styrofoam? Hayo, ngaku!

Saturday, November 4, 2023

Kreativitas dan Kepedulian Muhammad Aripin dalam Pemberdayaan Kaum Marjinal


“Bunda, punya botol plastik bekas?”

Aku berhenti mengetik dan menoleh ke Defai yang berdiri di sebelah meja komputer. “Ada di atas,” jawabku sambil mengarahkan dagu ke tangga. Aku menyimpan barang-barang bekas yang sudah kubersihkan untuk dikirim ke Bank Sampah di gudang di lantai dua.

Defai mengangguk. Di tengah tangga, dia berseru lagi. “Ada tutupnya? Sama sedotan bekas?”

“Ada di atas juga!” Aku balas berseru sambil kembali mengetik.

Tak lama, putri kecilku yang berusia 7 tahun itu sudah berdiri di sampingku. “Sekarang Defai perlu lidi dan lem,” ucapnya serius.

Aku mengerutkan kening. “Ade mau bikin apa?”

Thursday, October 26, 2023

Akhmad Sobirin Ekspor Gula Semut ke Mancanegara, Kok Bisa?


Menulis tentang para peraih apresiasi
SATU Indonesia Awards, merupakan salah satu momentum yang membuka mata hatiku. Ya, karena aku jadi ‘terpaksa terpapar’ pada kisah-kisah sukses orang-orang hebat ini. Beberapa dari mereka sungguh usianya lebih muda dariku, tetapi sudah bisa meraih kesuksesan (insyaAllah) dan bukan hanya itu, juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, mengubah nasib dan mungkin masa depan mereka hingga ke anak cucu. MasyaAllah.  

SATU Indonesia Awards adalah suatu bentuk apreasiasi yang diberikan oleh PT Astra International Tbk. bagi generasi muda, baik individu maupun kelompok, yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitar di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi, serta satu kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut.

Salah satu peraih apresiasi ini adalah Akhmad Sobirin pada tahun 2016, dengan aksinya memberdayakan gula semut.

Friday, October 20, 2023

Menggali Inspirasi dari Joko Sulistyo Sang Penyalur Air Tanah Kapur


Waktu itu kami pulang ke rumah dengan terburu-buru. Sudah pukul 16.00. Kami harus berangkat lagi pukul 16.30 jika tidak mau telat mengantarkan si nomor dua ke pondok pukul 19.00.

Hujan mengguyur Bogor seperti air yang disiramkan ke dua kucing yang sedang berantem. Banyak banget, maksudnya. Deras kalau untuk konteks hujan. Kami kuyup hanya sejarak turun dari mobil, membuka pagar lalu lari ke teras.

“Cepat semuanya mandi! Jangan pakai lama!” seruku. Aku sendiri sudah kebelet pengin buang air kecil. Karena suami dan si nomor dua langsung mengakuisisi dua kamar mandi di lantai bawah, aku langsung lari ke kamar mandi lantai atas. Si sulung dan si bungsu harus rela mengantre.

Tuesday, October 10, 2023

Vania Febriyantie: Menyemai Asa kala Pandemi dengan Urban Farming



Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal. Membuat banyak orang terpuruk karena kehilangan orang tersayang. Pembatasan interaksi membuat banyak sektor ekonomi terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ini berarti berkurang bahkan hilangnya pekerjaan yang berarti hilang pula sumber penghasilan sehari-hari. Hilang sumber penghasilan berarti tak ada lagi kemampuan untuk menghidupi diri maupun keluarga.

Namun, kesempitan yang terjadi ternyata juga berhasil memantik ide kreatif bagi yang lain. Yang lain ini salah satunya adalah Vania Febriyantie. Perempuan kelahiran 24 Februari 1993 ini menggagas ide Petani Kota dengan Advance Payment, yang membuatnya memenangkan Penghargaan SATU Indonesia Awards 2021 di Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi Covid-19. Penghargaan SATU Indonesia Awards adalah penghargaan bergengsi dari PT Astra International Tbk. yang diberikan kepada individu maupun kelompok generasi muda yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat di sekitarnya di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan dan Teknologi, serta satu kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut.

Apa sih Petani Kota itu? Terlebih lagi, kok dikaitkan dengan Advance Payment?

Wednesday, September 20, 2023

Visista Pratama Ashadi: Siambu dan Sikatup, Solusi Pakan Ternak Irit Tanpa Ngarit

Visista Pratama Ashadi: Siambu dan Sikatup, Solusi Pakan Ternak Irit Tanpa Ngarit

Berjalan di jalanan tanah pedesaan pada pagi hari yang sejuk dan berkabut, dengan latar gunung yang membiru, sawah yang luas membentang dengan bulir-bulir padi kuningnya yang gemuk merunduk, mendengar gemericik sungai kecil yang mengalir jernih, ditingkahi dering sepeda peternak yang membawa sekarung rumput hijau di boncengan, hasil aritan yang akan diantarkan ke kawanan ternak yang pasti sudah tak sabar menunggu ….

Sungguh pemandangan yang indah … di masa lalu. Banyak yang sudah berubah kini: gunung tak lagi rimbun, sawah menyempit, tanah semakin gersang.

Thursday, September 14, 2023

Hayu Dyah Patria: Meningkatkan Gizi Masyarakat Sekitar lewat Tanaman Liar

 Kaya tapi miskin, miskin padahal kaya

Itulah mungkin gambaran sebagian besar penduduk pedesaan Indonesia. Banyak dari mereka hidup dalam kemiskinan, atau malah di bawah garis kemiskinan. Dikutip dari cnnindonesia.com, Kepala BPS Margo Yuwono menyatakan bahwa total orang miskin di Indonesia mencapai 26,16 juta orang pada Maret 2022. Sebanyak 14,34 juta di antaranya ada di pedesaan dan sisanya yaitu 11,82 juta orang ada di perkotaan. Sedangkan menurut situs bps.go.id, persentase penduduk miskin menurut daerah di semester 1 (Maret) 2023 adalah 7,29% berada di perkotaan dan 12,22% ada di pedesaan.

Kemiskinan di pedesaan ini berdampak langsung salah satunya pada ketahanan pangan masyarakatnya. Ketahanan pangan itu sendiri adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi masyarakat dari aspek makanan yang bergizi, aman, bermutu, beragam, terjangkau dan dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat. Kemiskinan dan ketahanan pangan memiliki hubungan sebab akibat yang sangat erat. Karena miskin, maka masyarakat menjadi rawan pangan atau malah tidak memiliki ketahanan pangan. Kenapa begitu? Karena pangan harus dibeli.

Sungguh kondisi yang memprihatinkan, karena di banyak kasus, desa itu sebenarnya kaya. Kaya akan potensi kekayaan alam, di antaranya adalah tanaman lokal yang belum sepenuhnya diambil manfaatnya.

                Tanaman lokal ini sebenarnya pada suatu masa yang lalu pernah menjadi bahan konsumsi, tetapi kini mulai ditinggalkan malah dilupakan. Salah satu sebabnya menurut Hayu Dyah Patria, adalah masyarakat pedesaan terlanjur berpikir bahwa makanan modern lebih baik dari makanan mereka sendiri, yang berbahan tanaman lokal. Makanan modern yang dimaksud di sini yaitu makanan hasil industri misalnya makanan instan atau processed foods. Dari yang selama ini ditemui oleh Hayu, sulit sekali membalik pemahaman ini. Yang dipahami oleh masyarakat pedesaan adalah bahwa makanan yang selama ini mereka konsumsi adalah makanan rendahan, makanan masyarakat kelas dua.

Lebih lanjut menurut Hayu, propaganda pangan saat revolusi hijau di tahun 70an juga sedikit banyak bertanggung jawab atas hal ini, yaitu saat beras diperkenalkan kepada masyarakat dan digaung-gaungkan sebagai makanannya orang Indonesia. Hingga akhirnya tertanam paham bahwa belum jadi orang Indonesia kalau belum makan beras/nasi. Sehingga lalu mereka berpikir bahwa tanaman lokal yang ada di sekitar mereka sendiri tidak cukup baik, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

Karena itu Hayu berpendapat bahwa literasi pangan sangatlah penting. Masyarakat pedesaan harus dibukakan matanya dan diingatkan kembali bahwa ada banyak sekali tanaman di sekitar mereka yang memiliki nilai gizi tinggi dan sangat baik untuk dikonsumsi. Tanaman yang tumbuh liar, baik di pekarangan rumah, tepi jalan desa maupun di hutan yang melingkupi desa.

Omong-omong, siapa itu Hayu Dyah Patria?

Hayu Dyah Patria, Berjuang lewat Tanaman Liar

Hayu Dyah Patria, penerima SATU INDONESIA AWARD 2011
Sumber gambar: Youtube BBC News Indonesia

Dia adalah seorang ahli teknologi pangan lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya yang meneliti manfaat tanaman liar untuk ketahanan pangan masyarakat pedesaan. Jalan hidup perempuan warga Sidoarjo kelahiran tahun 1981 ini mulai berkelindan dengan tanaman liar di tahun 2004, saat ketika masih menjadi mahasiswa dan meneliti kandungan gizi mangrove.

Sejak tahun 2009, Hayu berkegiatan dengan ibu-ibu di Desa Galengdowo dan Dusun Mendira, Jombang, Jawa Timur untuk memanfaatkan tanaman liar sebagai bahan pangan.

Hayu awalnya mendengar bahwa desa-desa ini adalah daerah-daerah paling miskin di Kabupaten Jombang. Tempatnya terpencil jauh di atas bukit, jalan menuju ke sana rusak, rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan pekerjaan warganya hanya berkebun saja. Warga desa sering dicibir oleh warna di luar desa sebagai orang gunung yang miskin. Namun saat Hayu datang sendiri ke sana, yang dia lihat justru adalah kekayaan alam yang luar biasa melimpah.

Desa-desa ini dikelilingi oleh sumber air bersih yang mengalir langsung dari gunung, tanah yang gembur dan keanekaragaman hayati yang menunggu untuk diambil manfaatnya.

Hayu berkenalan dengan ibu-ibu yang ingin memajukan daerahnya. Dengan memanfaatkan pengetahuannya, Hayu mengajak ibu-ibu berkebun menanam tanaman-tanaman liar yang awalnya disepelekan.

Saat Hayu bertanya tanaman apa saja yang bisa dimakan, ibu-ibu desa dengan sigap memberi tahu berbagai nama tanaman seperti sintrong, pegagan, bayam banci, suwek, gadung dan lain-lain. Dari sekitar 100 nama, dipilih 40 jenis tanaman yang kemudian dicocok tanam di kebun seluas 3000 meter persegi.

Hasil kebun ini dimanfaatkan oleh warga desa untuk dikonsumsi sendiri dan sisanya dijual ke pasar. Tanaman liar juga diolah menjadi beragam makanan seperti kue, selai dan aneka minuman kesehatan. Warga desa merasa percaya diri mengonsumsi tanaman liar setelah memahami bahwa tanaman-tanaman ini sebenarnya memiliki nilai gizi tinggi. Misalnya saja krokot yang biasanya dijadikan pakan ayam dan jangkrik, kaya akan vitamin A, C, dan asam lemak omega 3 yang sangat baik untuk kesehatan jantung.

Tanaman krokot.
Sumber gambar: www.detik.com.

Tanaman jelatang
Sumber gambar: www.halodoc.com.

Jelatang atau lateng yang biasanya dibuang karena bulu-bulu di bagian batangnya bisa menyebabkan gatal-gatal, ternyata tinggi kandungan kalsium, vitamin A, C, dan D.

Hayu juga mendirikan organisasi nirlaba Mantasa yang salah satu kegiatannya adalah melakukan penelitian kandungan gizi tanaman liar. Sudah lebih dari 400 jenis tanaman liar tercatat bisa dikonsumsi, tetapi tidak semuanya bisa dimanfaatkan karena sudah jarang ditemukan. Ada sekitar 10 jenis tanaman liar yang sudah diketahui kandungan nutrisinya. Mereka masih dikonsumsi tetapi sudah mulai ditinggalkan, seperti tanaman sintrong, rukem dan sembukan. 

Prestasi dan Mimpi Hayu Dyah Patria

Berkat semangat dan kerja kerasnya dalam memajukan ketahanan pangan desa lewat tanaman liar, Hayu Dyah Patria memperoleh SATU INDONESIA AWARDS pada tahun 2011. Ini adalah penghargaan bergengsi sebagai apresiasi dari PT ASTRA International Tbk. untuk generasi muda, baik individu maupun kelompok, yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitar di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.

Selain di Jombang, Hayu juga menggagas Lokakarya Literasi Pangan yang dilaksanakan bersama para pemuda desa di Kampung Adat Saga, kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Impian Hayu terkait pangan lokal adalah agar masyarakat menyadari betul potensi luar biasa yang dimiliki oleh desa, lalu masyarakat desa bangga dengan budaya pangan mereka sendiri sebagai identitas sosial dan adat mereka yang bisa menjadikan mereka berdaulat pangan dan berdaulat gizi. Lokakarya-lokakarya yang digagas oleh Hayu di desa-desa membangkitkan kesadaran masyarakat desa bahwa identitas sosial maupun adat mereka berhubungan erat dengan alam, pangan, dan sejarah komunitas.

Hayu juga berharap bahwa di masa depan, ibu-ibu pedesaan bisa lebih mandiri, mampu mengelola dusun, menjaga alam kini dan nanti, karena Hayu yakin ibu-ibu inilah sebenarnya yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan suatu bangsa.

#SatuIndonesiaAwards #AnugerahPewartaAstra2023 #HayuDyahPatria #TanamanLiar #KetahananPangan #DesaIndonesia

Daftar pustaka:

https://www.bps.go.id/indicator/23/184/1/persentase-penduduk-miskin-menurut-wilayah.html, diakses pada 12 September 2023.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220715115822-532-821946/bps-sebut-mayoritas-orang-miskin-ada-di-desa diakses pada 12 September 2023.

https://www.youtube.com/watch?v=2SdWBbdKYmQ&t=8s diakses pada 13 September 2023.

https://news.detik.com/bbc-world/d-3212402/ibu-ibu-dusun-di-jombang-jatim-ini-olah-tanaman-liar-jadi-pangan-bergizi diakses pada 14 September 2023.

https://www.halodoc.com/artikel/lawan-eksim-hingga-lancarkan-asi-ini-5-manfaat-daun-jelatang diakses pada 14 September 2023.

Serta berbagai sumber.

Saturday, October 10, 2020

Ayo Lestarikan Hutan lewat Adopsi Hutan!

Everybody wants to stand in the shade, but no one wants to plant a tree - anonim.

Pernah dengar tentang quote di atas? Eh, aku bisa nambahin lho. Semua orang ingin menghirup udara segar, tetapi tidak mau menanam pohon. Semua tidak ingin banjir dan longsor, tetapi hutan dibuka dan diubah menjadi vila. Uhukk ...     

Jika satu pohon saja sedemikian artinya, terlebih lagi suatu hutan. Terlebih lagi hutan Indonesia. Semua tahu bahwa hutan sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun pertanyaan besarnya adalah, apakah kita sudah melakukan tindakan nyata untuk membantu pelestarian hutan? 

Friday, August 28, 2020

Yuk, Ajak Anak Kita Lestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan

"Katanya ada hantu di hutan di atas tebing."

Aku mengerutkan kening. "Kata siapa?" 

"Kata yang punya rumah dekat tebing. Suka kayak ada yang lewat di sela-sela pohonnya kalau malam. Terus ada juga suara-suara aneh gitu," jelas anakku dengan kening berkerut.

Aku tersenyum, lalu kembali ke serious-mode saat anakku cemberut. 

"Bunda percaya, hutan itu memang ada penjaganya," ucapku sambil mengangguk-angguk.

Anakku menatapku tak percaya.

"Beneran! Kamu tahu enggak, kenapa hutan itu perlu dijaga?" tanyaku sambil mengangkat-angkat alis.

"Ah, Bunda mah bercanda aja!" gerutu anakku kesal.

Aku kembali tersenyum, merangkulnya lalu mulai bercerita tentang para penjaga hutan.



Monday, January 13, 2020

6 Alat untuk Melakukan Composting di Rumah

6 Alat untuk Melakukan Composting di Rumah

Go Green, Back to Nature, Kembali ke Fitrahnya, adalah beberapa slogan yang kini sedang naik daun terkait pelestarian lingkungan.

Kembali ke fitrahnya, berhubungan erat dengan memisah dan memilah sampah non-organik dari organik. Sampah non-organik masih bisa didaur ulang atau dialih-fungsikan ke kegunaan lain. Sampah organik dikembalikan ke fitrahnya, kembali ke tanah.

Sumber utama sampah organik masyarakat adalah sampah rumah tangga atau sampah dapur. Bisa dalam bentuk sampah sayur yang tidak terolah seperti kulit buah atau batang sayur, sisa makanan seperti sisa sayur dan nasi basi atau tulang belulang. Sampah organik juga bisa berasal dari potongan rumput, daun kering dan buah busuk di halaman.

Sunday, July 28, 2019

Mengolah Sampah Organik 4 - 3M

Mengolah Sampah Organik 4 - 3M -- 3M adalah singkatan untuk Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil dan Mulai dari sekarang.

Pelatihan online Mengolah Sampah Organik yang diadakan oleh Prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung dan @sampahorganikku membangkitkan kembali rasa peduliku akan lingkungan, khususnya tentang pengolahan sampah organik.

Menurut Mbak Noviani dari Prodi Bioteknologi, pelatihan online ini muncul dengan latar belakang:
  • Tanggung jawab Prodi Bioteknologi terkait penerapan ilmu secara nyata dan bagian dari syiar atau dakwah. 
  • Kenyataan bahwa sampah adalah tanggung jawab kita sendiri. Kita harus menghadapi dan menyelesaikannya saat ini. Jikapun kita tidak bisa menghilangkan sampah sepenuhnya, setidaknya kita harus berusaha untuk menguranginya. Sampah bukan amal jariyah yang keberadaannya harus ditumpuk dan mengalirkan pahala saat kita meninggal.
  • Untuk mengatasi masalah sampah, kita tidak dapat melakukannya sendiri. Diperlukan adanya komunitas untuk tempat berbagi dan saling memotivasi sehingga gerakan ini konsisten dan berdampak lebih luas lagi.
Aku benar-benar setuju dengan tiga hal yang disebutkan di atas.

Thursday, July 25, 2019

Mengolah Sampah Organik 3 - Kucing-kucing Nakal

Mengolah Sampah Organik 3 - Kucing-kucing Nakal -- Kresek ... kresek! Aku yang sedang duduk di ruang tamu bermain bersama Defai, langsung waspada. Suara itu datangnya dari arah luar pagar.

Aku dan Defai mengendap-endap, lalu pelan-pelan membuka pintu depan, menjulurkan leher.

Benar saja. Kucing-kucing itu memanjat batang pohon bintaro tempat aku menggantung kantong-kantong sampah itu. Ah, sial. Aroma tulang-tulang ayam goreng itu pasti yang mengundang binatang-binatang berkaki empat itu. Dua kucing sudah bertengger di atas dahan. Ada bayangan bergerak di balik partisi pagar. Hmm ... satu lagi kucing sedang menunggu giliran di bawah pohon.

"Huss!" teriakku tiba-tiba.

"Huss ...," ujar Defai ikut-ikutan.

Wednesday, July 17, 2019

Mengolah Sampah Organik 1 - Awalnya dari Halaman

Mengolah Sampah Organik 1 - Awalnya dari Halaman -- Punya pohon-pohon buah besar di halaman rumah punya keuntungan dan kerugiannya. Keuntungannya tentu saja, halaman jadi adem. Lho, ngga kebagian buahnya? Sayangnya, pohon jambu cincalo-ku ngga mau berbuah. Maunya berdaun aja. Paling banter, berbunga deh. Lalu bunganya muruluk ke tanah. Hiks ....

Kalau pohon belimbingku, banyak sih buahnya, tetapi ngga ada yang mulus huhuhu ... semua berpenghuni. Berjatuhan sebelum matang sempurna, berkerut-kerut dan bertitik-titik kecokelatan, tanda sang ulat sudah mengklaim buah itu sebagai tempat tinggalnya.

Ada satu lagi pohon besar, yang ini tumbuhnya di luar pagar. Namanya pohon bintaro. Pohon ini ditanam oleh pengembang sebagai pohon penghijauan di sepanjang sisi jalan perumahan. Tetapi faktanya, banyak pemilik rumah yang menebang pohon ini. Katanya eh katanya, buah pohon ini beracun, jadinya ngga bisa dikonsumsi, dong. Parahnya lagi, kalau menimpa atap mobil, bisa bikin penyok! Kalau menimpa kacanya, bisa bikin pecah! Wah, gawat juga ya. Padahal pohon di depan rumah sudah cukup tinggi dan buahnya banyak. Memang sih, kalau pas lagi jatuh tuh ya, gedebuk! gitu bunyinya. Buahnya besar dan berat. Kalau jatuh dari ketinggian, lumayan juga. Pantas ya, kalau pas lagi ada keramaian di sekitar rumah pun, ngga ada yang mau naruh mobil di depan rumahku. Padahal, kan teduh. Ngeri rupanya, takut mobilnya kejatuhan si buah bintaro ini.

Monday, August 20, 2018

"Apa Salahku?" tanya Plastik.


"Apa Salahku?" tanya Plastik. -- Jika aku jadi plastik, tentu aku akan menjeritkan ini kuat-kuat hingga seluruh dunia mendengar gaungnya.

Apa salahku? Manusia yang membuatku, manusia yang mengambil manfaat dariku dan lalu aku yang disalahkan saat banjir datang? Saat mereka menggali tanah dan menemukanku bertahun-tahun kemudian?

Tentu ada alasannya bukan saat manusia mencari suatu bahan baru tertentu yang murah, mudah dibuat, mudah dibentuk dan tahan lama.

Lalu mereka menemukan aku, plastik.