Thursday, December 7, 2023

ASUS Vivobook Go 14 (E1404F) Laptop untuk Pelajar



Jadi, suatu hari anakku yang kelas X SMAKBo tiba-tiba menghampiri.

“Bun, mau dong dibeliin laptop buat ngerjain tugas sekolah.”

Aku mengangguk-angguk. Paham sih, kalau tugas sekolah dia memang banyak. Dia hampir setiap malam begadang mengerjakan peer dan laporan, bahkan sering kudengar dia koordinasi kerja kelompok via WA. Punya laptop akan meringankan bebannya.

Masalahnya, laptop apa yang cocok untuknya?

Alhamdulillah, masalah ini dengan cepat menemukan solusinya.

Friday, December 1, 2023

Coming in Hot: The Trendiest Gymwear Styles for Women 2023

2023 has been the year of fashion and new styles, and this wave of fashion didn’t leave gymwear alone either. That’s because the clothing brands started a new line of activewear, and they have been using the trendiest cuts to make sure people work out without compromising on fashion. However, with so many long sleeve legging set and bodysuits around you, it gets challenging to choose one.

For this reason, we took on the responsibility, and we have chosen the trendiest styles and pieces that will make you look amazing. So, let’s get started now!

Saturday, November 25, 2023

BRI dan UMi, Sinergi demi Masa Depan Negeri


Dia seorang penjual gorengan. Kita sebut saja namanya Mang Sarman (bukan nama sebenarnya). Aku tidak tahu pasti sudah berapa lama Mang Sarman sudah berjualan gorengan, tetapi seingatku, sejak SMP aku sudah sering mencegatnya jika dia lewat depan rumah. Kroketnya enak, isi bihun dan sedikit irisan wortel saja, tetapi rasanya sangat pas di lidah. Bala-balanya gurih tetapi tidak terlalu gurih. Mantap banget dimakan saat hangat, ditemani sebuah cabe rawit.

Dulu Mang Sarman masih gagah, berjalan keliling kampung ibuku sambil memanggul pikulan gorengan. Kamu masih ingat tukang gorengan yang memikul bawaannya? Di satu pikulan ada penggorengan dengan kompor di bawahnya. Di pikulan lain ada tempat membuat adonan, juga laci tempat uang. Zaman duluuu, ada banyak penjual yang menjajakan dagangannya dengan cara dipikul, berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Tukang bubur ayam, tukang soto santan, tukang gorengan, dulu semua dipikul.

Kembali ke masa kini. Waktu itu aku sedang mengunjungi Mama, silaturahim mingguan, seperti biasanya. Saat melihat seorang penjual gorengan sedang melayani pembeli di depan rumah Mama, aku berusaha mengingat-ingat. Aku bertanya pada Mama untuk memastikan dan benar saja, itu Mang Sarman.

Kata Mama, Mang Sarman masih suka lewat sini, tetapi sudah jarang banget. Jadi saat aku melihatnya, kuanggap itu sebagai rezeki. Aku menghampirinya.

Mang Sarman sudah renta. Tentu saja, kini sudah sekian puluh tahun berlalu dari masa aku SMP. Namun, Mang Sarman masih tetap dengan ‘gayanya’. Memanggul pikulan gorengan.

Saturday, November 4, 2023

Kreativitas dan Kepedulian Muhammad Aripin dalam Pemberdayaan Kaum Marjinal


“Bunda, punya botol plastik bekas?”

Aku berhenti mengetik dan menoleh ke Defai yang berdiri di sebelah meja komputer. “Ada di atas,” jawabku sambil mengarahkan dagu ke tangga. Aku menyimpan barang-barang bekas yang sudah kubersihkan untuk dikirim ke Bank Sampah di gudang di lantai dua.

Defai mengangguk. Di tengah tangga, dia berseru lagi. “Ada tutupnya? Sama sedotan bekas?”

“Ada di atas juga!” Aku balas berseru sambil kembali mengetik.

Tak lama, putri kecilku yang berusia 7 tahun itu sudah berdiri di sampingku. “Sekarang Defai perlu lidi dan lem,” ucapnya serius.

Aku mengerutkan kening. “Ade mau bikin apa?”

Thursday, October 26, 2023

Akhmad Sobirin Ekspor Gula Semut ke Mancanegara, Kok Bisa?


Menulis tentang para peraih apresiasi
SATU Indonesia Awards, merupakan salah satu momentum yang membuka mata hatiku. Ya, karena aku jadi ‘terpaksa terpapar’ pada kisah-kisah sukses orang-orang hebat ini. Beberapa dari mereka sungguh usianya lebih muda dariku, tetapi sudah bisa meraih kesuksesan (insyaAllah) dan bukan hanya itu, juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, mengubah nasib dan mungkin masa depan mereka hingga ke anak cucu. MasyaAllah.  

SATU Indonesia Awards adalah suatu bentuk apreasiasi yang diberikan oleh PT Astra International Tbk. bagi generasi muda, baik individu maupun kelompok, yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitar di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi, serta satu kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut.

Salah satu peraih apresiasi ini adalah Akhmad Sobirin pada tahun 2016, dengan aksinya memberdayakan gula semut.

Friday, October 20, 2023

Menggali Inspirasi dari Joko Sulistyo Sang Penyalur Air Tanah Kapur


Waktu itu kami pulang ke rumah dengan terburu-buru. Sudah pukul 16.00. Kami harus berangkat lagi pukul 16.30 jika tidak mau telat mengantarkan si nomor dua ke pondok pukul 19.00.

Hujan mengguyur Bogor seperti air yang disiramkan ke dua kucing yang sedang berantem. Banyak banget, maksudnya. Deras kalau untuk konteks hujan. Kami kuyup hanya sejarak turun dari mobil, membuka pagar lalu lari ke teras.

“Cepat semuanya mandi! Jangan pakai lama!” seruku. Aku sendiri sudah kebelet pengin buang air kecil. Karena suami dan si nomor dua langsung mengakuisisi dua kamar mandi di lantai bawah, aku langsung lari ke kamar mandi lantai atas. Si sulung dan si bungsu harus rela mengantre.

Sunday, October 15, 2023

Belajar pada Heri Chandra Santoso, Menghidupkan Sastra dari Desa Boja ke Indonesia


Aku menghela napas panjang saat melihat anak-anakku sibuk masing-masing. Anak pertama main game di ponselnya, anak kedua main game di komputer dan yang ketiga nonton video mukbang di tablet. Ini memang hari Minggu, tetapi ….

“Apa ngga ada kegiatan lain selain main game atau nonton youtube?” tanyaku jengkel.

Tidak ada jawaban pasti, ketiga anakku hanya menggumam tak jelas dengan mata tetap tertancap di layar.

“Udah berapa lama main?” tanyaku lagi.

Kali ini semua mulai dengan enggan menatapku, lalu pelan-pelan meringis. Itu artinya sudah lebih dari waktu yang diizinkan.

Aku mengangkat alis, lalu menjatuhkan vonis. “Yak! Kalau gitu semua udahan nontonnya, yaa!”

Sebagaimana bisa diduga, suara-suara protes langsung bermunculan. Aku bergeming dan akhirnya semua meninggalkan gawainya.

“Sekarang ngapain?” tanya si bungsu. Dia ikut-ikutan aku menyilangkan tangan di dada.

“Kan bisa baca buku,” jawabku cepat. “Bunda punya banyaaak buku!” Aku menunjuk ke arah rak-rak buku di sebelah komputer sambil tersenyum lebar.

Tuesday, October 10, 2023

Vania Febriyantie: Menyemai Asa kala Pandemi dengan Urban Farming



Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal. Membuat banyak orang terpuruk karena kehilangan orang tersayang. Pembatasan interaksi membuat banyak sektor ekonomi terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ini berarti berkurang bahkan hilangnya pekerjaan yang berarti hilang pula sumber penghasilan sehari-hari. Hilang sumber penghasilan berarti tak ada lagi kemampuan untuk menghidupi diri maupun keluarga.

Namun, kesempitan yang terjadi ternyata juga berhasil memantik ide kreatif bagi yang lain. Yang lain ini salah satunya adalah Vania Febriyantie. Perempuan kelahiran 24 Februari 1993 ini menggagas ide Petani Kota dengan Advance Payment, yang membuatnya memenangkan Penghargaan SATU Indonesia Awards 2021 di Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi Covid-19. Penghargaan SATU Indonesia Awards adalah penghargaan bergengsi dari PT Astra International Tbk. yang diberikan kepada individu maupun kelompok generasi muda yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat di sekitarnya di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan dan Teknologi, serta satu kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut.

Apa sih Petani Kota itu? Terlebih lagi, kok dikaitkan dengan Advance Payment?

Wednesday, October 4, 2023

5 Tips Bisnis Melejit ala Elsa Maharani dan Kampung Jahit



5 Tips Bisnis Melejit ala Elsa Maharani dan Kampung Jahit


Ada beberapa hal yang bisa aku pelajari dari seorang Elsa Maharani tentang hal-hal yang dibutuhkan untuk meraih sukses melejit di dunia dan akhirat (insyaAllah …)

1. Niat yang Lurus

Kalau ada yang bilang segala sesuatu dimulai dari niat, itu sungguh benar adanya. Niat adalah segala sesuatu yang mendasari perbuatan kita. Niat membantu kita tetap teguh berjuang saat aral melintang di jalan yang kita tempuh untuk mencapai tujuan.

Elsa Maharani, ibu dua anak asal Kampung Simpang Koto Tingga, Kelurahan Ambacang, Kecamatan Kuranji, Padang, Sumatera Barat ini berniat memberdayakan masyarakat ekonomi lemah di kampungnya.

Sejak dahulu kebanyakan penduduk Kampung Simpang Koto Tingga memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai kuli bangunan, asisten rumah tangga, petani, atau pemecah batu kali. Penghasilan mereka pas-pasan, malah diistilahkan sebagai petang-pagi, alias dapat duit petang, besok paginya sudah habis. Bukan hanya itu, pengguna narkoba pun ada banyak di kampung ini.

Saturday, September 30, 2023

Triana Rahmawati: Griya Schizofren, Menjadi Teman, Mengurangi Beban


Tak ada di dunia ini yang mau menjadi
ODMK, pasti tidak si ODMK-nya sendiri, begitu juga dengan keluarganya.

Apa itu ODMK?

ODMK atau orang dengan masalah kejiwaan, menurut UU Kesehatan Jiwa No.18/2014 adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Jika ODMK berpotensi ‘naik tingkat’ ke gangguan jiwa, apa itu gangguan jiwa?

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan pikiran, perasaan, dan perilaku, yang termanifestasi/terwujud dalam kumpulan gejala (sindrom) dan/atau adanya perubahan perilaku yang bermakna, menimbulkan hambatan, dan penderitaan dalam menjalankan fungsi sebagai manusia.

Menurut situs hermina.hospitals.com, prevalensi ODMK di sekitar kita adalah 15-30% atau 15-30 orang di antara 100 orang. Sementara ODGJ adalah sekitar 1% atau 1 orang dari 100 orang di sekitar kita.

Sunday, September 24, 2023

Ratna Indah Kurniawati: Melawan Dusta Kusta dengan Empati dan Dedikasi


Wanita itu bernama Ratna Indah Kurniawati. Tahun ini genap berusia 43 tahun. Perawakannya biasa saja, dengan tubuh ramping dan tinggi badan rata-rata. Saat berbicara, tutur bahasanya lembut. Tangannya kadang bergerak saat hendak memberi penekanan pada hal-hal yang penting. Siapa sangka, di balik yang biasa itu tersimpan sesuatu yang istimewa? 

Keistimewaan Ratna terletak pada profesi kesehariannya. Dia adalah perawat di Puskesmas Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sejak tahun 2009, Ratna mengelola program kusta. Tugasnya mencakup mendata ulang penderita kusta di wilayah kerjanya yang mencakup sembilan desa. Dia menghubungi satu per satu penderita untuk mengetahui status terbaru penyakit mereka. 

Kusta? Memangnya penyakit kulit itu masih ada di zaman sekarang ini? Bukankah penyakit mengerikan itu hanya ada di masa lalu? 

Wednesday, September 20, 2023

Visista Pratama Ashadi: Siambu dan Sikatup, Solusi Pakan Ternak Irit Tanpa Ngarit

Visista Pratama Ashadi: Siambu dan Sikatup, Solusi Pakan Ternak Irit Tanpa Ngarit

Berjalan di jalanan tanah pedesaan pada pagi hari yang sejuk dan berkabut, dengan latar gunung yang membiru, sawah yang luas membentang dengan bulir-bulir padi kuningnya yang gemuk merunduk, mendengar gemericik sungai kecil yang mengalir jernih, ditingkahi dering sepeda peternak yang membawa sekarung rumput hijau di boncengan, hasil aritan yang akan diantarkan ke kawanan ternak yang pasti sudah tak sabar menunggu ….

Sungguh pemandangan yang indah … di masa lalu. Banyak yang sudah berubah kini: gunung tak lagi rimbun, sawah menyempit, tanah semakin gersang.

Thursday, September 14, 2023

Hayu Dyah Patria: Meningkatkan Gizi Masyarakat Sekitar lewat Tanaman Liar

 Kaya tapi miskin, miskin padahal kaya

Itulah mungkin gambaran sebagian besar penduduk pedesaan Indonesia. Banyak dari mereka hidup dalam kemiskinan, atau malah di bawah garis kemiskinan. Dikutip dari cnnindonesia.com, Kepala BPS Margo Yuwono menyatakan bahwa total orang miskin di Indonesia mencapai 26,16 juta orang pada Maret 2022. Sebanyak 14,34 juta di antaranya ada di pedesaan dan sisanya yaitu 11,82 juta orang ada di perkotaan. Sedangkan menurut situs bps.go.id, persentase penduduk miskin menurut daerah di semester 1 (Maret) 2023 adalah 7,29% berada di perkotaan dan 12,22% ada di pedesaan.

Kemiskinan di pedesaan ini berdampak langsung salah satunya pada ketahanan pangan masyarakatnya. Ketahanan pangan itu sendiri adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi masyarakat dari aspek makanan yang bergizi, aman, bermutu, beragam, terjangkau dan dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat. Kemiskinan dan ketahanan pangan memiliki hubungan sebab akibat yang sangat erat. Karena miskin, maka masyarakat menjadi rawan pangan atau malah tidak memiliki ketahanan pangan. Kenapa begitu? Karena pangan harus dibeli.

Sungguh kondisi yang memprihatinkan, karena di banyak kasus, desa itu sebenarnya kaya. Kaya akan potensi kekayaan alam, di antaranya adalah tanaman lokal yang belum sepenuhnya diambil manfaatnya.

                Tanaman lokal ini sebenarnya pada suatu masa yang lalu pernah menjadi bahan konsumsi, tetapi kini mulai ditinggalkan malah dilupakan. Salah satu sebabnya menurut Hayu Dyah Patria, adalah masyarakat pedesaan terlanjur berpikir bahwa makanan modern lebih baik dari makanan mereka sendiri, yang berbahan tanaman lokal. Makanan modern yang dimaksud di sini yaitu makanan hasil industri misalnya makanan instan atau processed foods. Dari yang selama ini ditemui oleh Hayu, sulit sekali membalik pemahaman ini. Yang dipahami oleh masyarakat pedesaan adalah bahwa makanan yang selama ini mereka konsumsi adalah makanan rendahan, makanan masyarakat kelas dua.

Lebih lanjut menurut Hayu, propaganda pangan saat revolusi hijau di tahun 70an juga sedikit banyak bertanggung jawab atas hal ini, yaitu saat beras diperkenalkan kepada masyarakat dan digaung-gaungkan sebagai makanannya orang Indonesia. Hingga akhirnya tertanam paham bahwa belum jadi orang Indonesia kalau belum makan beras/nasi. Sehingga lalu mereka berpikir bahwa tanaman lokal yang ada di sekitar mereka sendiri tidak cukup baik, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

Karena itu Hayu berpendapat bahwa literasi pangan sangatlah penting. Masyarakat pedesaan harus dibukakan matanya dan diingatkan kembali bahwa ada banyak sekali tanaman di sekitar mereka yang memiliki nilai gizi tinggi dan sangat baik untuk dikonsumsi. Tanaman yang tumbuh liar, baik di pekarangan rumah, tepi jalan desa maupun di hutan yang melingkupi desa.

Omong-omong, siapa itu Hayu Dyah Patria?

Hayu Dyah Patria, Berjuang lewat Tanaman Liar

Hayu Dyah Patria, penerima SATU INDONESIA AWARD 2011
Sumber gambar: Youtube BBC News Indonesia

Dia adalah seorang ahli teknologi pangan lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya yang meneliti manfaat tanaman liar untuk ketahanan pangan masyarakat pedesaan. Jalan hidup perempuan warga Sidoarjo kelahiran tahun 1981 ini mulai berkelindan dengan tanaman liar di tahun 2004, saat ketika masih menjadi mahasiswa dan meneliti kandungan gizi mangrove.

Sejak tahun 2009, Hayu berkegiatan dengan ibu-ibu di Desa Galengdowo dan Dusun Mendira, Jombang, Jawa Timur untuk memanfaatkan tanaman liar sebagai bahan pangan.

Hayu awalnya mendengar bahwa desa-desa ini adalah daerah-daerah paling miskin di Kabupaten Jombang. Tempatnya terpencil jauh di atas bukit, jalan menuju ke sana rusak, rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan pekerjaan warganya hanya berkebun saja. Warga desa sering dicibir oleh warna di luar desa sebagai orang gunung yang miskin. Namun saat Hayu datang sendiri ke sana, yang dia lihat justru adalah kekayaan alam yang luar biasa melimpah.

Desa-desa ini dikelilingi oleh sumber air bersih yang mengalir langsung dari gunung, tanah yang gembur dan keanekaragaman hayati yang menunggu untuk diambil manfaatnya.

Hayu berkenalan dengan ibu-ibu yang ingin memajukan daerahnya. Dengan memanfaatkan pengetahuannya, Hayu mengajak ibu-ibu berkebun menanam tanaman-tanaman liar yang awalnya disepelekan.

Saat Hayu bertanya tanaman apa saja yang bisa dimakan, ibu-ibu desa dengan sigap memberi tahu berbagai nama tanaman seperti sintrong, pegagan, bayam banci, suwek, gadung dan lain-lain. Dari sekitar 100 nama, dipilih 40 jenis tanaman yang kemudian dicocok tanam di kebun seluas 3000 meter persegi.

Hasil kebun ini dimanfaatkan oleh warga desa untuk dikonsumsi sendiri dan sisanya dijual ke pasar. Tanaman liar juga diolah menjadi beragam makanan seperti kue, selai dan aneka minuman kesehatan. Warga desa merasa percaya diri mengonsumsi tanaman liar setelah memahami bahwa tanaman-tanaman ini sebenarnya memiliki nilai gizi tinggi. Misalnya saja krokot yang biasanya dijadikan pakan ayam dan jangkrik, kaya akan vitamin A, C, dan asam lemak omega 3 yang sangat baik untuk kesehatan jantung.

Tanaman krokot.
Sumber gambar: www.detik.com.

Tanaman jelatang
Sumber gambar: www.halodoc.com.

Jelatang atau lateng yang biasanya dibuang karena bulu-bulu di bagian batangnya bisa menyebabkan gatal-gatal, ternyata tinggi kandungan kalsium, vitamin A, C, dan D.

Hayu juga mendirikan organisasi nirlaba Mantasa yang salah satu kegiatannya adalah melakukan penelitian kandungan gizi tanaman liar. Sudah lebih dari 400 jenis tanaman liar tercatat bisa dikonsumsi, tetapi tidak semuanya bisa dimanfaatkan karena sudah jarang ditemukan. Ada sekitar 10 jenis tanaman liar yang sudah diketahui kandungan nutrisinya. Mereka masih dikonsumsi tetapi sudah mulai ditinggalkan, seperti tanaman sintrong, rukem dan sembukan. 

Prestasi dan Mimpi Hayu Dyah Patria

Berkat semangat dan kerja kerasnya dalam memajukan ketahanan pangan desa lewat tanaman liar, Hayu Dyah Patria memperoleh SATU INDONESIA AWARDS pada tahun 2011. Ini adalah penghargaan bergengsi sebagai apresiasi dari PT ASTRA International Tbk. untuk generasi muda, baik individu maupun kelompok, yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitar di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.

Selain di Jombang, Hayu juga menggagas Lokakarya Literasi Pangan yang dilaksanakan bersama para pemuda desa di Kampung Adat Saga, kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Impian Hayu terkait pangan lokal adalah agar masyarakat menyadari betul potensi luar biasa yang dimiliki oleh desa, lalu masyarakat desa bangga dengan budaya pangan mereka sendiri sebagai identitas sosial dan adat mereka yang bisa menjadikan mereka berdaulat pangan dan berdaulat gizi. Lokakarya-lokakarya yang digagas oleh Hayu di desa-desa membangkitkan kesadaran masyarakat desa bahwa identitas sosial maupun adat mereka berhubungan erat dengan alam, pangan, dan sejarah komunitas.

Hayu juga berharap bahwa di masa depan, ibu-ibu pedesaan bisa lebih mandiri, mampu mengelola dusun, menjaga alam kini dan nanti, karena Hayu yakin ibu-ibu inilah sebenarnya yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan suatu bangsa.

#SatuIndonesiaAwards #AnugerahPewartaAstra2023 #HayuDyahPatria #TanamanLiar #KetahananPangan #DesaIndonesia

Daftar pustaka:

https://www.bps.go.id/indicator/23/184/1/persentase-penduduk-miskin-menurut-wilayah.html, diakses pada 12 September 2023.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220715115822-532-821946/bps-sebut-mayoritas-orang-miskin-ada-di-desa diakses pada 12 September 2023.

https://www.youtube.com/watch?v=2SdWBbdKYmQ&t=8s diakses pada 13 September 2023.

https://news.detik.com/bbc-world/d-3212402/ibu-ibu-dusun-di-jombang-jatim-ini-olah-tanaman-liar-jadi-pangan-bergizi diakses pada 14 September 2023.

https://www.halodoc.com/artikel/lawan-eksim-hingga-lancarkan-asi-ini-5-manfaat-daun-jelatang diakses pada 14 September 2023.

Serta berbagai sumber.