Thursday, September 14, 2023

Hayu Dyah Patria: Meningkatkan Gizi Masyarakat Sekitar lewat Tanaman Liar

 Kaya tapi miskin, miskin padahal kaya

Itulah mungkin gambaran sebagian besar penduduk pedesaan Indonesia. Banyak dari mereka hidup dalam kemiskinan, atau malah di bawah garis kemiskinan. Dikutip dari cnnindonesia.com, Kepala BPS Margo Yuwono menyatakan bahwa total orang miskin di Indonesia mencapai 26,16 juta orang pada Maret 2022. Sebanyak 14,34 juta di antaranya ada di pedesaan dan sisanya yaitu 11,82 juta orang ada di perkotaan. Sedangkan menurut situs bps.go.id, persentase penduduk miskin menurut daerah di semester 1 (Maret) 2023 adalah 7,29% berada di perkotaan dan 12,22% ada di pedesaan.

Kemiskinan di pedesaan ini berdampak langsung salah satunya pada ketahanan pangan masyarakatnya. Ketahanan pangan itu sendiri adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi masyarakat dari aspek makanan yang bergizi, aman, bermutu, beragam, terjangkau dan dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat. Kemiskinan dan ketahanan pangan memiliki hubungan sebab akibat yang sangat erat. Karena miskin, maka masyarakat menjadi rawan pangan atau malah tidak memiliki ketahanan pangan. Kenapa begitu? Karena pangan harus dibeli.

Sungguh kondisi yang memprihatinkan, karena di banyak kasus, desa itu sebenarnya kaya. Kaya akan potensi kekayaan alam, di antaranya adalah tanaman lokal yang belum sepenuhnya diambil manfaatnya.

                Tanaman lokal ini sebenarnya pada suatu masa yang lalu pernah menjadi bahan konsumsi, tetapi kini mulai ditinggalkan malah dilupakan. Salah satu sebabnya menurut Hayu Dyah Patria, adalah masyarakat pedesaan terlanjur berpikir bahwa makanan modern lebih baik dari makanan mereka sendiri, yang berbahan tanaman lokal. Makanan modern yang dimaksud di sini yaitu makanan hasil industri misalnya makanan instan atau processed foods. Dari yang selama ini ditemui oleh Hayu, sulit sekali membalik pemahaman ini. Yang dipahami oleh masyarakat pedesaan adalah bahwa makanan yang selama ini mereka konsumsi adalah makanan rendahan, makanan masyarakat kelas dua.

Lebih lanjut menurut Hayu, propaganda pangan saat revolusi hijau di tahun 70an juga sedikit banyak bertanggung jawab atas hal ini, yaitu saat beras diperkenalkan kepada masyarakat dan digaung-gaungkan sebagai makanannya orang Indonesia. Hingga akhirnya tertanam paham bahwa belum jadi orang Indonesia kalau belum makan beras/nasi. Sehingga lalu mereka berpikir bahwa tanaman lokal yang ada di sekitar mereka sendiri tidak cukup baik, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

Karena itu Hayu berpendapat bahwa literasi pangan sangatlah penting. Masyarakat pedesaan harus dibukakan matanya dan diingatkan kembali bahwa ada banyak sekali tanaman di sekitar mereka yang memiliki nilai gizi tinggi dan sangat baik untuk dikonsumsi. Tanaman yang tumbuh liar, baik di pekarangan rumah, tepi jalan desa maupun di hutan yang melingkupi desa.

Omong-omong, siapa itu Hayu Dyah Patria?

Hayu Dyah Patria, Berjuang lewat Tanaman Liar

Hayu Dyah Patria, penerima SATU INDONESIA AWARD 2011
Sumber gambar: Youtube BBC News Indonesia

Dia adalah seorang ahli teknologi pangan lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya yang meneliti manfaat tanaman liar untuk ketahanan pangan masyarakat pedesaan. Jalan hidup perempuan warga Sidoarjo kelahiran tahun 1981 ini mulai berkelindan dengan tanaman liar di tahun 2004, saat ketika masih menjadi mahasiswa dan meneliti kandungan gizi mangrove.

Sejak tahun 2009, Hayu berkegiatan dengan ibu-ibu di Desa Galengdowo dan Dusun Mendira, Jombang, Jawa Timur untuk memanfaatkan tanaman liar sebagai bahan pangan.

Hayu awalnya mendengar bahwa desa-desa ini adalah daerah-daerah paling miskin di Kabupaten Jombang. Tempatnya terpencil jauh di atas bukit, jalan menuju ke sana rusak, rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan pekerjaan warganya hanya berkebun saja. Warga desa sering dicibir oleh warna di luar desa sebagai orang gunung yang miskin. Namun saat Hayu datang sendiri ke sana, yang dia lihat justru adalah kekayaan alam yang luar biasa melimpah.

Desa-desa ini dikelilingi oleh sumber air bersih yang mengalir langsung dari gunung, tanah yang gembur dan keanekaragaman hayati yang menunggu untuk diambil manfaatnya.

Hayu berkenalan dengan ibu-ibu yang ingin memajukan daerahnya. Dengan memanfaatkan pengetahuannya, Hayu mengajak ibu-ibu berkebun menanam tanaman-tanaman liar yang awalnya disepelekan.

Saat Hayu bertanya tanaman apa saja yang bisa dimakan, ibu-ibu desa dengan sigap memberi tahu berbagai nama tanaman seperti sintrong, pegagan, bayam banci, suwek, gadung dan lain-lain. Dari sekitar 100 nama, dipilih 40 jenis tanaman yang kemudian dicocok tanam di kebun seluas 3000 meter persegi.

Hasil kebun ini dimanfaatkan oleh warga desa untuk dikonsumsi sendiri dan sisanya dijual ke pasar. Tanaman liar juga diolah menjadi beragam makanan seperti kue, selai dan aneka minuman kesehatan. Warga desa merasa percaya diri mengonsumsi tanaman liar setelah memahami bahwa tanaman-tanaman ini sebenarnya memiliki nilai gizi tinggi. Misalnya saja krokot yang biasanya dijadikan pakan ayam dan jangkrik, kaya akan vitamin A, C, dan asam lemak omega 3 yang sangat baik untuk kesehatan jantung.

Tanaman krokot.
Sumber gambar: www.detik.com.

Tanaman jelatang
Sumber gambar: www.halodoc.com.

Jelatang atau lateng yang biasanya dibuang karena bulu-bulu di bagian batangnya bisa menyebabkan gatal-gatal, ternyata tinggi kandungan kalsium, vitamin A, C, dan D.

Hayu juga mendirikan organisasi nirlaba Mantasa yang salah satu kegiatannya adalah melakukan penelitian kandungan gizi tanaman liar. Sudah lebih dari 400 jenis tanaman liar tercatat bisa dikonsumsi, tetapi tidak semuanya bisa dimanfaatkan karena sudah jarang ditemukan. Ada sekitar 10 jenis tanaman liar yang sudah diketahui kandungan nutrisinya. Mereka masih dikonsumsi tetapi sudah mulai ditinggalkan, seperti tanaman sintrong, rukem dan sembukan. 

Prestasi dan Mimpi Hayu Dyah Patria

Berkat semangat dan kerja kerasnya dalam memajukan ketahanan pangan desa lewat tanaman liar, Hayu Dyah Patria memperoleh SATU INDONESIA AWARDS pada tahun 2011. Ini adalah penghargaan bergengsi sebagai apresiasi dari PT ASTRA International Tbk. untuk generasi muda, baik individu maupun kelompok, yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitar di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.

Selain di Jombang, Hayu juga menggagas Lokakarya Literasi Pangan yang dilaksanakan bersama para pemuda desa di Kampung Adat Saga, kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Impian Hayu terkait pangan lokal adalah agar masyarakat menyadari betul potensi luar biasa yang dimiliki oleh desa, lalu masyarakat desa bangga dengan budaya pangan mereka sendiri sebagai identitas sosial dan adat mereka yang bisa menjadikan mereka berdaulat pangan dan berdaulat gizi. Lokakarya-lokakarya yang digagas oleh Hayu di desa-desa membangkitkan kesadaran masyarakat desa bahwa identitas sosial maupun adat mereka berhubungan erat dengan alam, pangan, dan sejarah komunitas.

Hayu juga berharap bahwa di masa depan, ibu-ibu pedesaan bisa lebih mandiri, mampu mengelola dusun, menjaga alam kini dan nanti, karena Hayu yakin ibu-ibu inilah sebenarnya yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan suatu bangsa.

#SatuIndonesiaAwards #AnugerahPewartaAstra2023 #HayuDyahPatria #TanamanLiar #KetahananPangan #DesaIndonesia

Daftar pustaka:

https://www.bps.go.id/indicator/23/184/1/persentase-penduduk-miskin-menurut-wilayah.html, diakses pada 12 September 2023.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220715115822-532-821946/bps-sebut-mayoritas-orang-miskin-ada-di-desa diakses pada 12 September 2023.

https://www.youtube.com/watch?v=2SdWBbdKYmQ&t=8s diakses pada 13 September 2023.

https://news.detik.com/bbc-world/d-3212402/ibu-ibu-dusun-di-jombang-jatim-ini-olah-tanaman-liar-jadi-pangan-bergizi diakses pada 14 September 2023.

https://www.halodoc.com/artikel/lawan-eksim-hingga-lancarkan-asi-ini-5-manfaat-daun-jelatang diakses pada 14 September 2023.

Serta berbagai sumber.

No comments:

Post a Comment