Showing posts with label Lomba. Show all posts
Showing posts with label Lomba. Show all posts

Saturday, November 25, 2023

BRI dan UMi, Sinergi demi Masa Depan Negeri


Dia seorang penjual gorengan. Kita sebut saja namanya Mang Sarman (bukan nama sebenarnya). Aku tidak tahu pasti sudah berapa lama Mang Sarman sudah berjualan gorengan, tetapi seingatku, sejak SMP aku sudah sering mencegatnya jika dia lewat depan rumah. Kroketnya enak, isi bihun dan sedikit irisan wortel saja, tetapi rasanya sangat pas di lidah. Bala-balanya gurih tetapi tidak terlalu gurih. Mantap banget dimakan saat hangat, ditemani sebuah cabe rawit.

Dulu Mang Sarman masih gagah, berjalan keliling kampung ibuku sambil memanggul pikulan gorengan. Kamu masih ingat tukang gorengan yang memikul bawaannya? Di satu pikulan ada penggorengan dengan kompor di bawahnya. Di pikulan lain ada tempat membuat adonan, juga laci tempat uang. Zaman duluuu, ada banyak penjual yang menjajakan dagangannya dengan cara dipikul, berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Tukang bubur ayam, tukang soto santan, tukang gorengan, dulu semua dipikul.

Kembali ke masa kini. Waktu itu aku sedang mengunjungi Mama, silaturahim mingguan, seperti biasanya. Saat melihat seorang penjual gorengan sedang melayani pembeli di depan rumah Mama, aku berusaha mengingat-ingat. Aku bertanya pada Mama untuk memastikan dan benar saja, itu Mang Sarman.

Kata Mama, Mang Sarman masih suka lewat sini, tetapi sudah jarang banget. Jadi saat aku melihatnya, kuanggap itu sebagai rezeki. Aku menghampirinya.

Mang Sarman sudah renta. Tentu saja, kini sudah sekian puluh tahun berlalu dari masa aku SMP. Namun, Mang Sarman masih tetap dengan ‘gayanya’. Memanggul pikulan gorengan.

Wednesday, October 4, 2023

5 Tips Bisnis Melejit ala Elsa Maharani dan Kampung Jahit



5 Tips Bisnis Melejit ala Elsa Maharani dan Kampung Jahit


Ada beberapa hal yang bisa aku pelajari dari seorang Elsa Maharani tentang hal-hal yang dibutuhkan untuk meraih sukses melejit di dunia dan akhirat (insyaAllah …)

1. Niat yang Lurus

Kalau ada yang bilang segala sesuatu dimulai dari niat, itu sungguh benar adanya. Niat adalah segala sesuatu yang mendasari perbuatan kita. Niat membantu kita tetap teguh berjuang saat aral melintang di jalan yang kita tempuh untuk mencapai tujuan.

Elsa Maharani, ibu dua anak asal Kampung Simpang Koto Tingga, Kelurahan Ambacang, Kecamatan Kuranji, Padang, Sumatera Barat ini berniat memberdayakan masyarakat ekonomi lemah di kampungnya.

Sejak dahulu kebanyakan penduduk Kampung Simpang Koto Tingga memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai kuli bangunan, asisten rumah tangga, petani, atau pemecah batu kali. Penghasilan mereka pas-pasan, malah diistilahkan sebagai petang-pagi, alias dapat duit petang, besok paginya sudah habis. Bukan hanya itu, pengguna narkoba pun ada banyak di kampung ini.

Saturday, September 30, 2023

Triana Rahmawati: Griya Schizofren, Menjadi Teman, Mengurangi Beban


Tak ada di dunia ini yang mau menjadi
ODMK, pasti tidak si ODMK-nya sendiri, begitu juga dengan keluarganya.

Apa itu ODMK?

ODMK atau orang dengan masalah kejiwaan, menurut UU Kesehatan Jiwa No.18/2014 adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Jika ODMK berpotensi ‘naik tingkat’ ke gangguan jiwa, apa itu gangguan jiwa?

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan pikiran, perasaan, dan perilaku, yang termanifestasi/terwujud dalam kumpulan gejala (sindrom) dan/atau adanya perubahan perilaku yang bermakna, menimbulkan hambatan, dan penderitaan dalam menjalankan fungsi sebagai manusia.

Menurut situs hermina.hospitals.com, prevalensi ODMK di sekitar kita adalah 15-30% atau 15-30 orang di antara 100 orang. Sementara ODGJ adalah sekitar 1% atau 1 orang dari 100 orang di sekitar kita.

Sunday, September 24, 2023

Ratna Indah Kurniawati: Melawan Dusta Kusta dengan Empati dan Dedikasi


Wanita itu bernama Ratna Indah Kurniawati. Tahun ini genap berusia 43 tahun. Perawakannya biasa saja, dengan tubuh ramping dan tinggi badan rata-rata. Saat berbicara, tutur bahasanya lembut. Tangannya kadang bergerak saat hendak memberi penekanan pada hal-hal yang penting. Siapa sangka, di balik yang biasa itu tersimpan sesuatu yang istimewa? 

Keistimewaan Ratna terletak pada profesi kesehariannya. Dia adalah perawat di Puskesmas Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sejak tahun 2009, Ratna mengelola program kusta. Tugasnya mencakup mendata ulang penderita kusta di wilayah kerjanya yang mencakup sembilan desa. Dia menghubungi satu per satu penderita untuk mengetahui status terbaru penyakit mereka. 

Kusta? Memangnya penyakit kulit itu masih ada di zaman sekarang ini? Bukankah penyakit mengerikan itu hanya ada di masa lalu? 

Wednesday, September 20, 2023

Visista Pratama Ashadi: Siambu dan Sikatup, Solusi Pakan Ternak Irit Tanpa Ngarit

Visista Pratama Ashadi: Siambu dan Sikatup, Solusi Pakan Ternak Irit Tanpa Ngarit

Berjalan di jalanan tanah pedesaan pada pagi hari yang sejuk dan berkabut, dengan latar gunung yang membiru, sawah yang luas membentang dengan bulir-bulir padi kuningnya yang gemuk merunduk, mendengar gemericik sungai kecil yang mengalir jernih, ditingkahi dering sepeda peternak yang membawa sekarung rumput hijau di boncengan, hasil aritan yang akan diantarkan ke kawanan ternak yang pasti sudah tak sabar menunggu ….

Sungguh pemandangan yang indah … di masa lalu. Banyak yang sudah berubah kini: gunung tak lagi rimbun, sawah menyempit, tanah semakin gersang.

Thursday, September 14, 2023

Hayu Dyah Patria: Meningkatkan Gizi Masyarakat Sekitar lewat Tanaman Liar

 Kaya tapi miskin, miskin padahal kaya

Itulah mungkin gambaran sebagian besar penduduk pedesaan Indonesia. Banyak dari mereka hidup dalam kemiskinan, atau malah di bawah garis kemiskinan. Dikutip dari cnnindonesia.com, Kepala BPS Margo Yuwono menyatakan bahwa total orang miskin di Indonesia mencapai 26,16 juta orang pada Maret 2022. Sebanyak 14,34 juta di antaranya ada di pedesaan dan sisanya yaitu 11,82 juta orang ada di perkotaan. Sedangkan menurut situs bps.go.id, persentase penduduk miskin menurut daerah di semester 1 (Maret) 2023 adalah 7,29% berada di perkotaan dan 12,22% ada di pedesaan.

Kemiskinan di pedesaan ini berdampak langsung salah satunya pada ketahanan pangan masyarakatnya. Ketahanan pangan itu sendiri adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi masyarakat dari aspek makanan yang bergizi, aman, bermutu, beragam, terjangkau dan dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat. Kemiskinan dan ketahanan pangan memiliki hubungan sebab akibat yang sangat erat. Karena miskin, maka masyarakat menjadi rawan pangan atau malah tidak memiliki ketahanan pangan. Kenapa begitu? Karena pangan harus dibeli.

Sungguh kondisi yang memprihatinkan, karena di banyak kasus, desa itu sebenarnya kaya. Kaya akan potensi kekayaan alam, di antaranya adalah tanaman lokal yang belum sepenuhnya diambil manfaatnya.

                Tanaman lokal ini sebenarnya pada suatu masa yang lalu pernah menjadi bahan konsumsi, tetapi kini mulai ditinggalkan malah dilupakan. Salah satu sebabnya menurut Hayu Dyah Patria, adalah masyarakat pedesaan terlanjur berpikir bahwa makanan modern lebih baik dari makanan mereka sendiri, yang berbahan tanaman lokal. Makanan modern yang dimaksud di sini yaitu makanan hasil industri misalnya makanan instan atau processed foods. Dari yang selama ini ditemui oleh Hayu, sulit sekali membalik pemahaman ini. Yang dipahami oleh masyarakat pedesaan adalah bahwa makanan yang selama ini mereka konsumsi adalah makanan rendahan, makanan masyarakat kelas dua.

Lebih lanjut menurut Hayu, propaganda pangan saat revolusi hijau di tahun 70an juga sedikit banyak bertanggung jawab atas hal ini, yaitu saat beras diperkenalkan kepada masyarakat dan digaung-gaungkan sebagai makanannya orang Indonesia. Hingga akhirnya tertanam paham bahwa belum jadi orang Indonesia kalau belum makan beras/nasi. Sehingga lalu mereka berpikir bahwa tanaman lokal yang ada di sekitar mereka sendiri tidak cukup baik, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

Karena itu Hayu berpendapat bahwa literasi pangan sangatlah penting. Masyarakat pedesaan harus dibukakan matanya dan diingatkan kembali bahwa ada banyak sekali tanaman di sekitar mereka yang memiliki nilai gizi tinggi dan sangat baik untuk dikonsumsi. Tanaman yang tumbuh liar, baik di pekarangan rumah, tepi jalan desa maupun di hutan yang melingkupi desa.

Omong-omong, siapa itu Hayu Dyah Patria?

Hayu Dyah Patria, Berjuang lewat Tanaman Liar

Hayu Dyah Patria, penerima SATU INDONESIA AWARD 2011
Sumber gambar: Youtube BBC News Indonesia

Dia adalah seorang ahli teknologi pangan lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya yang meneliti manfaat tanaman liar untuk ketahanan pangan masyarakat pedesaan. Jalan hidup perempuan warga Sidoarjo kelahiran tahun 1981 ini mulai berkelindan dengan tanaman liar di tahun 2004, saat ketika masih menjadi mahasiswa dan meneliti kandungan gizi mangrove.

Sejak tahun 2009, Hayu berkegiatan dengan ibu-ibu di Desa Galengdowo dan Dusun Mendira, Jombang, Jawa Timur untuk memanfaatkan tanaman liar sebagai bahan pangan.

Hayu awalnya mendengar bahwa desa-desa ini adalah daerah-daerah paling miskin di Kabupaten Jombang. Tempatnya terpencil jauh di atas bukit, jalan menuju ke sana rusak, rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan pekerjaan warganya hanya berkebun saja. Warga desa sering dicibir oleh warna di luar desa sebagai orang gunung yang miskin. Namun saat Hayu datang sendiri ke sana, yang dia lihat justru adalah kekayaan alam yang luar biasa melimpah.

Desa-desa ini dikelilingi oleh sumber air bersih yang mengalir langsung dari gunung, tanah yang gembur dan keanekaragaman hayati yang menunggu untuk diambil manfaatnya.

Hayu berkenalan dengan ibu-ibu yang ingin memajukan daerahnya. Dengan memanfaatkan pengetahuannya, Hayu mengajak ibu-ibu berkebun menanam tanaman-tanaman liar yang awalnya disepelekan.

Saat Hayu bertanya tanaman apa saja yang bisa dimakan, ibu-ibu desa dengan sigap memberi tahu berbagai nama tanaman seperti sintrong, pegagan, bayam banci, suwek, gadung dan lain-lain. Dari sekitar 100 nama, dipilih 40 jenis tanaman yang kemudian dicocok tanam di kebun seluas 3000 meter persegi.

Hasil kebun ini dimanfaatkan oleh warga desa untuk dikonsumsi sendiri dan sisanya dijual ke pasar. Tanaman liar juga diolah menjadi beragam makanan seperti kue, selai dan aneka minuman kesehatan. Warga desa merasa percaya diri mengonsumsi tanaman liar setelah memahami bahwa tanaman-tanaman ini sebenarnya memiliki nilai gizi tinggi. Misalnya saja krokot yang biasanya dijadikan pakan ayam dan jangkrik, kaya akan vitamin A, C, dan asam lemak omega 3 yang sangat baik untuk kesehatan jantung.

Tanaman krokot.
Sumber gambar: www.detik.com.

Tanaman jelatang
Sumber gambar: www.halodoc.com.

Jelatang atau lateng yang biasanya dibuang karena bulu-bulu di bagian batangnya bisa menyebabkan gatal-gatal, ternyata tinggi kandungan kalsium, vitamin A, C, dan D.

Hayu juga mendirikan organisasi nirlaba Mantasa yang salah satu kegiatannya adalah melakukan penelitian kandungan gizi tanaman liar. Sudah lebih dari 400 jenis tanaman liar tercatat bisa dikonsumsi, tetapi tidak semuanya bisa dimanfaatkan karena sudah jarang ditemukan. Ada sekitar 10 jenis tanaman liar yang sudah diketahui kandungan nutrisinya. Mereka masih dikonsumsi tetapi sudah mulai ditinggalkan, seperti tanaman sintrong, rukem dan sembukan. 

Prestasi dan Mimpi Hayu Dyah Patria

Berkat semangat dan kerja kerasnya dalam memajukan ketahanan pangan desa lewat tanaman liar, Hayu Dyah Patria memperoleh SATU INDONESIA AWARDS pada tahun 2011. Ini adalah penghargaan bergengsi sebagai apresiasi dari PT ASTRA International Tbk. untuk generasi muda, baik individu maupun kelompok, yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitar di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.

Selain di Jombang, Hayu juga menggagas Lokakarya Literasi Pangan yang dilaksanakan bersama para pemuda desa di Kampung Adat Saga, kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Impian Hayu terkait pangan lokal adalah agar masyarakat menyadari betul potensi luar biasa yang dimiliki oleh desa, lalu masyarakat desa bangga dengan budaya pangan mereka sendiri sebagai identitas sosial dan adat mereka yang bisa menjadikan mereka berdaulat pangan dan berdaulat gizi. Lokakarya-lokakarya yang digagas oleh Hayu di desa-desa membangkitkan kesadaran masyarakat desa bahwa identitas sosial maupun adat mereka berhubungan erat dengan alam, pangan, dan sejarah komunitas.

Hayu juga berharap bahwa di masa depan, ibu-ibu pedesaan bisa lebih mandiri, mampu mengelola dusun, menjaga alam kini dan nanti, karena Hayu yakin ibu-ibu inilah sebenarnya yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan suatu bangsa.

#SatuIndonesiaAwards #AnugerahPewartaAstra2023 #HayuDyahPatria #TanamanLiar #KetahananPangan #DesaIndonesia

Daftar pustaka:

https://www.bps.go.id/indicator/23/184/1/persentase-penduduk-miskin-menurut-wilayah.html, diakses pada 12 September 2023.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220715115822-532-821946/bps-sebut-mayoritas-orang-miskin-ada-di-desa diakses pada 12 September 2023.

https://www.youtube.com/watch?v=2SdWBbdKYmQ&t=8s diakses pada 13 September 2023.

https://news.detik.com/bbc-world/d-3212402/ibu-ibu-dusun-di-jombang-jatim-ini-olah-tanaman-liar-jadi-pangan-bergizi diakses pada 14 September 2023.

https://www.halodoc.com/artikel/lawan-eksim-hingga-lancarkan-asi-ini-5-manfaat-daun-jelatang diakses pada 14 September 2023.

Serta berbagai sumber.

Friday, June 28, 2019

Morinaga Chil Kid Soya, #BekalPrestasi untuk Jadi Juara di Hati Bunda

Morinaga Chil Kid Soya, #BekalPrestasi untuk Jadi Juara di Hati Bunda -- Dini, sepupuku tampak gelisah. Dia berkali-kali mengusap pipi dan mengintip perut Sita, anaknya yang baru berusia 2 tahun yang tertidur di pangkuannya. Aku yang duduk di sebelahnya, jadi penasaran. Saat berikutnya Dini mengangkat baju anaknya, aku mendengar dia menghela napas khawatir.

"Kenapa, Din?" tanyaku sedikit kepo. Aku sebenarnya baru bertemu dengannya. Kami adalah keluarga jauh yang benar-benar jauh hihi ... jauh secara hubungan darah dan domisili. Kami bertemu saat silaturahim Idul Fitri, awal bulan Juni kemarin.

"Ini Mbak Astrid, pipi dan perut anakku merah-merah," ujar Dini. Anak itu menggeliat, tetapi aku masih dapat melihat sekilas bercak-bercak merah saat sepupuku itu mengangkat baju anaknya.

"Aduduh ...," seruku pelan. "Kenapa itu?"

Thursday, December 20, 2018

Ajak Aku Bermain, Bunda!


Senang yang mana, Bun? Rumah rapi dan anak anteng ... atau rumah yang berantakan karena mainan berserakan di mana-mana? Lelah menemani anak bermain dan berlarian di luar rumah, atau duduk santai di rumah menemani anak nonton TV seharian?

Aku suka kerapian dan kebersihan. Aku juga sukaaa sekali kalau anak anteng, jadi aku bisa mengerjakan banyak hal di rumah sampai beres. Maklum, aku adalah ibu rumah tangga tanpa ART, mengerjakan semuanya sendiri. Jadi kalau anak duduk tenang di pojokan, itu suatu hal yang sangat luar biasa menyenangkannya bagiku. Selepas lelah membersihkan rumah, aku juga ingin dong istirahat santai menonton acara favorit di depan TV. Anak? Ya ikut duduk tenang nonton bersama kita.

Wednesday, August 29, 2018

Nikmati Hari #AsikTanpaToxic dengan Natsbee Honey Lemon


Nikmati Hari #AsikTanpaToxic dengan Natsbee Honey Lemon --- Aku menatap pantulan wajahku di cermin, jemariku menyentuh dagu, lalu naik ke tulang pipi dan terhenti di situ. Aku mencoba menghitung titik-titik hitam yang bertebaran, tampaknya bertambah banyak dibanding beberapa tahun yang lalu.

Flek-flek hitam itu tidak muncul dengan sendirinya, tidak juga secara serta merta. Aku sadar, bahwa mereka mulai berdatangan sejak aku mulai mengendarai motor sendiri. Paparan polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot kendaraan yang kuhadapi hampir setiap hari, juga sinar matahari yang menyengat kulit wajah, menyebabkan timbulnya flek-flek hitam ini. Eh, aku kan pakai jilbab ya. Nah, terlihat sekali lho perbedaan tampilan antara kulit wajah yang tertutup jilbab dan yang tidak tertutup. Yang tertutup jilbab lebih bersih dan lebih sedikit flek hitamnya.

Wednesday, May 30, 2018

Morinaga Allergy Solution: Pahami Alergi Anak agar Si Kecil Tetap Berprestasi


Morinaga Allergy Solution: Pahami Alergi Anak agar Si Kecil Tetap Berprestasi -- "Wah, kenapa dadanya merah-merah ya?" gumam Dokter Spesialis Anak mengerutkan keningnya sambil mengamati dada Fai yang sedang terbaring di atas meja periksa. Jarinya meraba sekitar area yang memerah, dan Fai yang sedang tidur menggeliat perlahan.

Dokter paruh baya itu ganti menatap wajah Fai yang terlelap, tersenyum lalu membungkus kembali bayiku dalam balutan baju tidur flanel hangat. Dia kemudian menatapku, memberi tanda bahwa kontrol kesehatan Fai sudah selesai dan aku boleh mengangkat bayiku dari meja periksa. Aku tidak bisa tidak merasa penasaran. 

"Merah-merah tadi kenapa, Dok? Waktu di rumah sih belum ada," tanyaku sambil menimang Fai. Iya, di rumah saat aku memakaikan pakaiannya, tidak ada ruam apa pun di tubuh Fai.

Tuesday, May 29, 2018

Menikmati Cita Rasa Kenangan di Waroenk Talubi


Menikmati Cita Rasa Kenangan di Waroenk Talubi -- Apa yang akan kalian lakukan untuk mempertahankan kenangan manis? Mencetaknya, memberi pigura lalu memajangnya di dinding? Bagaimana kalau kenangan itu berupa rasa masakan orang tua atau nenek kita? Mungkin kita akan simpan baik-baik ya resepnya dan sebisa mungkin menurunkannya terus pada anak cucu kita sehingga tidak akan hilang oleh waktu.

Tapi bagaimana jika resep itu menciptakan cita rasa yang begitu enak, sehingga ingin rasanya kita berbagi perasaan senang saat kita menyantapnya?

Yang dilakukan oleh Mba Ellen Sunaryo dan sanak saudaranya adalah membuka Waroenk Talubi.

Wednesday, April 25, 2018

Berani Wujudkan Mimpi dengan SOBATKU


Berani Wujudkan Mimpi dengan SOBATKU -- Pernah ngga sih kalian punya mimpi, kalau kalian punya uang berjuta-juta, kalian mau melakukan apa? Kalau aku sih, aku mau naik haji. Aku juga mau menabungkan sebagiannya untuk biaya sekolah anak, mungkin beli kendaraan baru, atau jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarga.

Duh, banyak amat ya mimpiku! :)

Bagaimana jika ternyata mimpi untuk mendapatkan uang berjuta-juta itu, bisa terwujud dengan mudah? Kalian tertarik? Pastinya YA!

Nah, mimpi itu bisa diwujudkan dengan menabung di SOBATKU.

Eh siapa sih SOBATKU?

Thursday, March 8, 2018

Berbagi Uri-cran Berbagi Solusi Alami Atasi Anyang-anyangan


Berbagi Uri-cran, Berbagi Solusi Alami Atasi Anyang-anyangan -- Semua yang pernah merasakan sakit saat buang air kecil pasti sepakat bahwa ini adalah sakit yang sangat mengganggu. Jadi saat kakak perempuanku mengeluhkan sakit ini, ditambah dengan merasa ingin buang air kecil tapi tidak terasa tuntas, aku tahu dia sedang mengalami anyang-anyangan dan langsung memberinya Uri-cran.

Eh, apa sih anyang-anyangan itu? Dan apa hubungannya dengan Uri-cran?

Saturday, February 17, 2018

Horee, Asinan Blogger Menang 100 Dolar!


Mendapat hadiah dalam dolar itu masih mengagumkan ya?

Iya dong, dolar masih punya daya tarik tersendiri. Jadi saat Asinan Blogger memenangkan hadiah $100 dari Bika Talubi, rasanya senang luar biasa!

Bika Talubi mengadakan lomba foto Instagram Smile Challenge dengan pose memegang New York Style Banana Cheesecake di tangan. Lomba yang diadakan dalam rangka mempromosikan keik terbaru keluaran toko oleh-oleh khas Bogor ini diikuti oleh banyak peminat, yang dapat dilihat di IG mereka @bikatalubi.

Friday, October 13, 2017

Tips dan Strategi Membangun Personal Branding



You need to brand yourself to be known by other! Or you'll just be... a nobody...

Apa sih istimewanya branding, atau personal branding di jaman serba digital sekarang ini? Wow, penting banget, bow! Personal branding menunjukkan siapa kita. 

Di masa kini saat 40% warga Indonesia aktif bermedsos dan 51%-nya adalah pengguna internet, rasanya tidak ada deh yang tidak kenal Facebook, IG, Twitter dan media-media sosial mainstream lainnya. Dari balik kamar sampai ke pasar, telepon genggam bisa djumpai di mana saja. Setiap orang bisa update status kapan saja. Status apa? Apa aja juga boleeeh... Tapi taukah kamu, status kamu bisa mencerminkan siapa kamu? Apa yang kamu cuitkan di Twitter, bisa membuat orang-orang membayangkan pribadi seperti apakah kamu? Dengan kata lain, apa yang kita tampilkan di media sosial, bisa jadi adalah personal branding kita.

Friday, September 8, 2017

Rangkaian Perawatan Kulit Mustela Bebe, menjaga kesehatan kulit bayi, sekarang dan seterusnya

Apa yang paling sering digunakan untuk menggambarkan kesehatan dan kelembutan kulit, ya Bun? Pastinya kulit bayi. Tidak ada yang bisa menandinginya. Bahkan sampai tergetar hati kita saat menyentuhnya pertama kali.

Semakin lama mengenal sang buah hati, semakin dalam rasa sayang yang kita rasakan. Semakin ingin kita melindunginya sepenuh hati. Dan tahukah Bunda, kulit lembutnyalah yang pertama menjaga tubuhnya dari segala yang mengganggu.

Friday, May 19, 2017

Atasi Anyang-anyangan, Bebas Beraktivitas dengan Prive uri-cran


Apakah teman-teman pernah merasakan rasa sakit buang air kecil? Sakit sekali ya! Aku pernah merasakannya dulu. Aku sampai merasa takut lho untuk buang air kecil. Aku takut merasakan perihnya! Sungguh dilema, karena aku tahu bahwa buang air kecil tidak boleh ditahan-tahan. Tetapi malah, hasrat untuk buang air kecil menjadi lebih sering terasa. Sungguh beberapa hari yang sangat menyiksa!

Itulah yang namanya infeksi saluran kemih. Dari mana aku tahu, ya berdasarkan pemeriksaan dokter.

Saturday, April 15, 2017

Bersama Milna, Mengawal Momen Tumbuh Kembang si Kecil



Menjadi ibu adalah suatu berkah. Cantiknya bayi kecil Defai yang ditaruh di dada selepas keluar dari rahim, tubuh hangatnya menggetarkan hati, membuatku bertekad untuk memberinya ASI eksklusif selama enam bulan penuh. Aku berhasil. Kukira dulu, itu adalah suatu pencapaian besar. Ya, memang hebat, tetapi masih jauh dari selesai. Usia enam bulan adalah saatnya Defai memulai MPASI-nya.

"Setelah si Kecil memasuki usia 6 bulan, ASI saja sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan energi untuk proses tumbuh kembangnya, kekurangan energi harus dipasok dari makanan tambahan selain ASI. Data RISKESDAS 2010 juga menunjukkan bahwa terjadinya growth faltering ataupun peningkatan prevelensi stunting (kurus) dan wasting (pendek) lebih banyak terjadi setelah anak berusia 6 bulan yaitu usia di mana mereka harus mendapatkan MPASI. Jadi MPASI yang memadai perlu diberikan pada anak saat berusia 6 bulan sampai 2 tahun untuk mencukupi kebutuhan energi selain dari ASI. Pentingnya pemberian MPASI jangka pendek adalah untuk memenuhi kebutuhan energi, sedangkan pentingnya pemberian MPASI jangka panjang adalah untuk memastikan bahwa dengan pemberian MPASI yang tepat maka tumbuh kembang anak akan terjaga sebagaimana seharusnya," --- Dr. Endang Dewi Lestari, MPH, SpA(K), Spesialis Anak, Pakar Gizi dan Penyakit Metabolik.

Thursday, January 19, 2017

Bakmi Mewah Pangsit Keju - Sajian Mewah yang Sehat, Lezat dan Cepat di Rumah ala Restoran


Suamiku sangat suka mie, bakmi dan semua kreasinya. Semua jenis bakmi dan makanan berbahan dasar mie pasti disukainya.

Suamiku juga suka mencoba-coba rasa baru. Nah, begitu tahu ada iklan Bakmi Mewah di tivi, langsung dong ingin coba. Ternyata Bakmi Mewah mudah dijumpai di berbagai minimarket hingga toko-toko besar. Harganya pun terjangkau, masih di bawah Rp10.000,00.

Wah, dilihat dari kemasannya saja sudah berkesan mewah, kotak karton berlapis plastik tipis. Pastinya aman dan higienis nih. Lalu... lalu... yang paling penting apa ayoo? Yups, label halal dari MUI. Terpampang jelas di depan sebelah kiri bawah. Jadi tenang kan menyantapnya :)

Sunday, January 15, 2017

Oleh-oleh Khas Bogor yang Lembut nan Menggoda: Bika Bogor Talubi


Selalu ada yang baru dan enak dari kota Bogor. Inovasi yang menggoda dan menggugah selera. Kelembutannya membuatnya tidak akan mudah dilupakan, malah mungkin akan selalu dicari.

Aku bicara tentang Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi).

Bika Bogor? Bukannya bika itu penganan khas Ambon eh... Medan? Ahaha.. makanya main dong ke Bogor. Ada yang baru nih buat dijadikan oleh-oleh dari Kota Hujan.

Kalau bika Ambon berbahan utama tepung sagu dan tepung terigu, Bika Bogor Talubi berbahan dasar tepung talas dan tepung ubi. Rasanya semua sudah tahu dong kalau talas itu icon-nya kota Bogor banget. Seperti ubi, hasil olahan talas cukup banyak, mulai dari keripik, hingga kue dan keik.