Sunday, June 24, 2018

Pencuri Puding


Pencuri Puding -- Dulu saat aku kuliah, aku kost bersama tiga orang lain, di sebuah rumah dengan empat kamar tidur. Dua buah kamar tidur terletak di bagian belakang rumah, di lantai satu. Pintu-pintu kamar tidur membuka langsung ke arah ruang makan yang menyatu dengan dapur kecil. Satu pintu di ruang makan terhubung dengan ruang tamu di bagian depan rumah, satu pintu lagi untuk ke kamar mandi dan pintu ketiga mengarah ke halaman belakang tempat kami menjemur pakaian. Aku dan Teh Uwi tinggal di lantai satu.

Di lantai dua, ada dua buah kamar tidur untuk Teh Sari dan Teh Gigi, serta sebuah kamar mandi. Untuk naik ke lantai dua, kami menggunakan tanggal kecil di sisi kiri ruang tamu.

Orangtua Teh Gigi adalah pemilik rumah ini. Teh Uwi dan Teh Sari adalah teman dekat Teh Gigi, meski mereka berbeda jurusan. Kuliah mereka semua dua tingkat di atasku.

Aku adalah si anak baru, anak bawang.

Friday, June 8, 2018

Bebek Aja Antri!


Bebek Aja Antri! -- Dari tempatku berdiri, kira-kira di urutan kedua belas dari orang yang paling depan di antrian gubuk sate kambing ini, aku mengelilingkan pandang. Mataku terhenti di seorang ibu separuh baya yang tampak mencurigakan.

Sang ibu mengenakan baju kondangan yang cukup meriah. Baju atasan kebaya berwarna ungu tua berpayet, dengan kain sarung cokelat prada. Selop keemasan berhak tiga senti membungkus kakinya yang gemuk. Kakinya gemuk? Iya sih, wajar karena tubuhnya pun tidak bisa dibilang langsing. Meski demikian, gerak geriknya gesit. Sang ibu bergerak maju dari arah belakang antrian, mencoba menyelipkan diri di antara orang-orang yang mengantri gubuk lasagna panggang di sebelah gubuk sate kambing. Saat berjalan, kembang goyang berwarna emas di kondenya bergetar, serirama dengan ayunan tas tangan berwarna sama yang tergantung di lengan kanannya.

Monday, June 4, 2018

Kepo vs Care


Kepo vs Care -- Seorang teman A posting sesuatu di grup WA, sambil menyebut nama seorang teman B. Teman C menyahut bahwa, Eh B kan udah ngga ada di grup. Aku ikut nimbrung dan bertanya, Lho kapan B left group? Kenapa?

C menjawab sambil memberi ikon tertawa, Kamu kepo ih. Dan aku berhenti di situ, hanya membalas dengan ikon senyum miring.

Kepo. Ada yang bilang bahwa istilah yang populer beberapa tahun belakangan ini, adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object, alias pengin tahu sagala rupa tentang semua hal. Tapi dari apa yang dijelaskan oleh bahasawan Ivan Lanin, kepo berasal dari bahasa Singlish alias Singaporean English Kay Poh (Kaypo) yang berarti nosey parker atau busy body. Maknanya adalah orang yang sok sibuk dan mengganggu (urusan orang lain).

Hey, aku ngga kepo ah. Aku perhatian.

Saturday, June 2, 2018

For the Love of Cats


For the Love of Cats -- Pertama kali Fai kecil jongkok di depan kucing kurus yang duduk di luar pagar rumah tetangga sebelah, merentangkan tangan gemuknya untuk meraih hewan berbulu kumal itu, memanggilnya dengan suara ba-ba-ba yang lucu, aku tahu saat itu, bahwa kecenderungan untuk menyukai sesuatu dapat diwariskan.

Fai kecil sangat suka kucing. Tidak heran, karena aku juga suka binatang lucu berkaki empat itu. 

Dulu waktu aku kecil, aku dan kakak perempuanku memelihara seekor kucing kampung yang kami beri nama Honey. Agak kurang pantas sih, karena Honey adalah kucing jantan. Bulunya putih dengan spot-spot abu-abu di sana-sini. 

Mungkin seharusnya kami tidak menamainya Honey. Mungkin gara-gara namanya yang feminin, Honey jadi kurang gahar. Tubuhnya langsing semampai, suaranya kecil dan lembut. Jarang sekali Honey mengeong keras, kecuali saat berhadapan dengan kucing jantan lain. Hanya berhadapan, karena sejurus kemudian Honey akan secepat kilat lari masuk ke dalam rumah dengan ekor terselip di kedua kaki belakangnya, gemetaran bersembunyi di bawah kursi di ruang tamu sementara aku dan kakakku mengusir kucing lawannya dengan sapu ijuk. Kadang dia sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Siapa yang membersihkan lantai yang bau pesing tajam itu? Mama.

Thursday, May 31, 2018

Kisah Panci Berkilau


"Ma, ada tamu ... ," seruku dari ambang pintu depan.

Aku menatap dua anak kecil yang berdiri dengan malu-malu di teras, mata mereka terpaku ke lantai. Dari kemiripan raut wajah keduanya, aku yakin mereka kakak beradik. Yang laki-laki berusia sekitar 8 tahun, mengenakan baju kaus dan celana pendek biru bergambar Transformer. Si adik, seorang anak perempuan yang usianya mungkin 6 tahunan, mengenakan baju terusan pink bergambar Putri Elsa.  

Pagi itu wajah mereka segar, dengan rambut yang masih basah. Tetapi baju mereka lusuh, membungkus badan-badan yang kurus. Si gadis kecil memegangi sebuah panci berkilau. Panci itu cukup besar. Bukan sembarang panci, aku tahu. Itu panci mulus mahal yang sering kulihat iklannya di televisi.

"Ada apa, sih? Pagi-pagi sudah teriak-teriak," Mama tiba-tiba muncul di belakangku. Aku yang masih memandangi kedua anak itu, tersentak. 

Makan di Korea Selatan, Begini Aturan yang Harus Kamu Patuhi


Sumber gambar: thespruceeats.com
Makan di Korea Selatan, Begini Aturan yang Harus Kamu Patuhi -- Kalau melihat adegan makan di drama Korea Selatan, rasanya enak banget ya cara mereka makan. Aneka hidangan ditata di atas meja, dengan berbagai makanan yang terlihat lezat. Tapi ternyata tata cara makan di Korea nggak segampang yang terlihat di layar kaca.

Ada aturan yang jumlahnya cukup banyak yang harus dipatuhi untuk menjaga sopan santun di Korea. Apa saja? 

Tuesday, May 29, 2018

Morinaga Allergy Solution: Pahami Alergi Anak agar Si Kecil Tetap Berprestasi


Morinaga Allergy Solution: Pahami Alergi Anak agar Si Kecil Tetap Berprestasi -- "Wah, kenapa dadanya merah-merah ya?" gumam Dokter Spesialis Anak mengerutkan keningnya sambil mengamati dada Fai yang sedang terbaring di atas meja periksa. Jarinya meraba sekitar area yang memerah, dan Fai yang sedang tidur menggeliat perlahan.

Dokter paruh baya itu ganti menatap wajah Fai yang terlelap, tersenyum lalu membungkus kembali bayiku dalam balutan baju tidur flanel hangat. Dia kemudian menatapku, memberi tanda bahwa kontrol kesehatan Fai sudah selesai dan aku boleh mengangkat bayiku dari meja periksa. Aku tidak bisa tidak merasa penasaran. 

"Merah-merah tadi kenapa, Dok? Waktu di rumah sih belum ada," tanyaku sambil menimang Fai. Iya, di rumah saat aku memakaikan pakaiannya, tidak ada ruam apa pun di tubuh Fai.