Friday, February 9, 2018

Kerak Telor, Makanan Unik Khas Betawi


Kerak Telor, Makanan Unik Khas Betawi -- Pertama kali aku makan kerak telor mungkin sekitar 13 tahun yang lalu, saat aku masih bekerja di Jakarta. Bersama teman-teman kantor, aku main ke Pekan Raya Jakarta di Kemayoran. Penjual-penjual kerak telor ini dulu dapat di temui di tepi lapangan tempat artis-artis Pekan Raya Jakarta manggung. Penasaran banget sama makanan satu ini, aku bela-belain menunggu karena penjual kerak telor itu baru ada menjelang malam, lalu aku terburu-buru mengejar kereta api terakhir untuk pulang ke Bogor. Jadi, kerak telor itu selalu membangkitkan kenangan akan Pekan Raya Jakarta saat itu. Bagaimana rasanya kerak telor di tahun 2005? Aku juga sudah lupa...

Di Bogor, agak sulit ya menemukan tukang kerak telor. Katanya sih, ada yang mangkal di Jalan Suryakencana, tapi kami jaraaangg pergi ke arah pecinannya kota Bogor itu. Jauh dan muachettt...

Jadi saat kami lari pagi di Stadion Pakansari dan menemukan seorang mamang tukang kerak telor, aku langsung berhenti dan membeli.


Si Mamang duduk di bawah pohon besar di tepi trotoar. Dua tanggungan berisi bahan-bahan kerak telor ada di kedua sisinya, dan satu tungku berisi arang menyala redup di depannya. Saat aku meminta satu porsi kerak telor, arang dikipas-kipas kuat hingga membara.

"Pakai telor bebek atau telor ayam, Neng?" tanyanya.
"Hmm... bedanya apa, Mang?" aku bertanya balik.
"Rasanya sih tergantung selera aja, Neng. Tapi kalau pakai telur bebek harganya Rp18.000,00. Kalau telur ayam Rp15.000,00," jelas si Mamang.
"Ya udah, telur bebek aja deh, Mang," putusku. Mungkin nanti dapatnya juga lebih banyak hehehe... telur bebek lebih besar dari telur ayam, bukan?

Pertama-tama, Mamang memasukkan kira-kira satu atau dua sendok makan ketan putih ke dalam penggorengan. Ketan ini sudah harus direndam dulu semalaman ya. Tujuannya agar supaya lebih cepat matang, kurasa. Sedikit air rendaman ditambahkan lalu ditutup hingga airnya berkurang, atau di istilah kita sih, diaron kali yaaa... Lalu Mamang menambahkan bumbu halus yang kalau aku googling sih, terdiri dari cabai merah keriting, kencur, jahe dan merica. Ditambahkan juga bubuk serundeng, ebi dan bawang goreng. Bahan terakhir adalah satu butir telur bebek, dan semuanya dikocok langsung di atas penggorengan.

Mengaron ketan putih sebagai bahan dasar kerak telor

Menambahkan bumbu-bumbu
 Mamang melebarkan adonan hingga ke pinggiran penggorengan, dan setelah beberapa saat, penggorengan dibalik untuk mematangkan sisi satunya lagi. Inilah keunikan dari cara memasak kerak telor. Khawatir tumpah? Aku sih iya hehehe... tapi ternyata tidak tuh. Adonan menempel kuat ke penggorengan.

Penggorengan dibalik, awas tumpah Mang, kerak telornya!

Kerak telor sudah matang
Memasak kerak telor dengan cara dibalik selain untuk mematangkan sisi lainnya, adalah juga untuk menambahkan aroma khas bakaran arang batok kepada kerak telor. Ya, Mamang tukang kerak telor ini masih menggunakan arang batok lho untuk memasak. Bisakah membuat kerak telor sendiri di rumah dengan kompor gas? Tentu bisa, tapi akan kehilangan aroma khas arang batok bakar yang menjadi salah satu kekuatan makanan tradisional ini.

Setelah matang, ditandai dengan kerak telor sudah berwarna kecokelatan, kerak telor diangkat dari penggorengan dengan cara dikosrek-kosrek (atau disodok-sodok??) oleh spatula dan Mamang memindahkannya ke kertas nasi. Lalu Mamang memberi taburan serundeng dan bawang merah di atasnya.

Anak-anak sudah tidak sabar mencicipi makanan khas Betawi ini. Ini kali pertama untuk mereka. Sambil duduk di pinggir jalan, mereka memotek sedikit-sedikit kerak telornya. Faza suka sih, tapi tanpa bumbu serundeng dan bawang merahnya. Izzan kurang suka walaupun makan juga sedikit. Aku? Hmm... terus terang, aku sudah lupa apakah ini rasa yang sama dengan yang kucicipi 13 tahun yang lalu? Atau, bagaimana sih rasa kerak telor yang sebenar-benarnya kerak telor asli Betawi?

Pertama kalinya anak-anak mencicipi kerak telor
Kerak telor ini teksturnya sedikit krenyes-krenyes dari ketan putihnya. Kalau dimasak lebih lama, mungkin akan lebih garing dan crunchy, ngga ya?

Rasa kerak telor yang ini kurang spicy menurutku, mungkin karena aku juga yang memang meminta si Mamang agar jangan menaruh terlalu banyak bumbu, khawatir anak-anak nantinya malah kurang suka. Entah kenapa, di pikiranku koq seharusnya rasa kerak telor itu pedas-pedas gimanaaa gitu... Mungkin kalau lain kali ketemu tukang kerak telor lagi, aku akan minta dibikinkan dua porsi saja. Yang satu porsi aman untuk anak-anak. Satunya lagi porsi full of spices khusus untukku hehehe... Bagaimana dengan PakSu? Hmmm... kayanya ini bukan seleranya beliau.

Teman-teman punya referensi tukang kerak telor yang enak, di sekitaran Bogor? Bolehlah tulis di kolom komentar yaaa :)

4 comments:

  1. sekarang pun di jakarta jg udah susah cari kerak telor selain di prj. padahal sukaa bgt makan kerak telor ini. kalo kata papa, ini tuh "pizza" nya betawi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaa bener banget. 'Pizza'-nya Betawi! :D

      Delete
  2. Dulu di Palembang ada nih jual kerak telor tapi sekarang gak ada lagi *curhat. Pernah sekali makan di lingkungan Kota Tua, tapi kok rasanya gak sesuai ekspektasi ya mbak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun tidak tahu rasa kerak telor yang sebenar-benarnya, Mba Harumi hehehe...

      Delete