Tuesday, January 16, 2018

Romantika Periksa Darah


Masih di sekitaran kisah tentang menghabiskan dana asuransi kesehatan suami :) Kalian bisa baca cerita pertamaku tentang topik ini di postingan Jangan Takut Scaling Gigi.

Sejak pertengahan tahun, aku sudah sounding ke suami bahwa aku ingin melakukan cek darah. Yang standar saja sih. Concern-ku ke gula darah dan kolesterol saja. Terakhir aku melakukan cek darah adalah saat hamil, berarti itu sekitar dua tahun yang lalu, karena Defai sekarang berusia 19 bulan.

Kenapa cek darah? Pertama-tama, murni hanya untuk mengatahui kondisi kesehatanku saat ini. Kurasa cek darah adalah screening pertama untuk itu. Aku sering merasa lelah, dan aku sudah makan banyak sekali tapi tetap kurus. Harusnya aku senang ya? Ahaha... lagipula aku masih menyusui. Tapi tak ada salahnya koq cek darah. Lalu kenapa tidak sekalian medical check up lengkap, yang meliputi cek kondisi jantung, hati, dan lain-lain? Emmm... untuk yang itu, ngga sanggup biayanya bow hehehe... Cek darah ini saja maunya yang gratisan, makanya kami menunggu sisa plafon asuransi suami :)

Yang kedua, didorong oleh beberapa berita tentang kondisi kesehatan beberapa teman seangkatan yang menurun bahkan hingga menjalani perawatan yang lama dan bolak-balik masuk rumah sakit :( Seorang kawan suami bahkan meninggal dunia karena stroke, tekanan darah tinggi dan komplikasi lainnya.

Kalau selama ini kami hanya mendengar bahwa penyakit-penyakit yang duluuu sih menimpa orang-orang tua saja itu kini sudah merambah ke usia muda dan produktif macam usia kami ini, melihatnya secara langsung dalam artian pergi menengok teman yang sakit dan melayat kematian teman sendiri itu, memberi pengaruh yang jauh lebih mendalam pada pola pikir kami tentang menjaga kesehatan diri.

Melihat sedihnya pasangan teman yang mendapat ujian kesehatan, anak-anak mereka yang masih kecil dan pastinya masih sangat membutuhkan pendampingan orangtua, membuat kami lebih menyadari bahwa kesehatan kami bukan 'milik' kami pribadi yang bisa kami perlakukan sesuka hati. Kesehatan kami juga milik anak-anak kami. Kami tidak bisa egois 'menikmati hidup' dan mengesampingkan kesehatan diri. Kami juga ingin mendampingi anak-anak kami tumbuh dewasa, dalam keadaan tubuh yang pasti menua tapi tetap sehat dan bugar, itu harapan kami.

Suami mendapatkan fasilitas medical check up dari kantornya setiap tahun. Aku tentu saja tidak. Ada sedikit cerita lucu dan sedih -- atau konyol? hehehe -- tentang pengalamanku cek darah kali ini.

Jadi, asuransi suami kan berakhir setiap tanggal 31 Desember. Tanggal 28 Desember kami semua berangkat ke Rumah Sakit Umum Hermina Bogor untuk scaling gigi, periksa kulit suami dan periksa darahku. Sekalian di satu hari supaya efektif waktunya, karena waktu tempuh ke Hermina dari rumah kami tuh lumayan juga, plus macet-macetnya karena ada pembangunan jalan tol di Jalan Soleh Iskandar. Koq meffet-meffet ke tanggal 31? Karena hari-hari sebelumnya kami sibuk kesana kemari hihihi...

Di tanggal 28 itu, biasalah yaa kami menunggu antrian dipanggil dokter. Ternyata, setelah aku diperiksa oleh dokter umum dan diberi rekomendasi untuk cek darah ke lab, dokter bilang kalau pemeriksaan gula darahku memerlukan puasa terlebih dulu selama minimal 10 jam. Berarti tidak bisa hari itu juga. Padahal esok harinya kami ada acara juga hehehe... sok sibuk gitu deeehh.. Hmmm... yasutralah, acara ambil darah ditunda dulu hingga Sabtu tanggal 30 Desember.

Jumat tanggal 29, aku mulai puasa dari jam 8 malam untuk diambil darah besok paginya. Tanggal 30 Desember, ada dua agenda kegiatan kami hari itu. Pertama, mengambil asesoris handphone yang kupesan ke service center. Tadinya sempat deg-degan khawatir SC-nya tutup, tapi alhamdulillah ternyata buka, kami hanya perlu menunggu sebentar saja. Sambil menunggu, aku menyuapi Defai. Tak sengaja aku menjilat bubur Defai yang menetes ke punggung tanganku. Tersentak kaget, aku segera meludahkannya. Suami ikut kaget dan memandangku. "Kan harus puasa buat cek darah," ucapku. Setelah urusan di SC selesai, lanjut jalan ke Hermina. Kami pikir bakal macet di Jalan Solis, Sabtu gitu lho. Eh ternyata lancar jaya, mungkin sebagian warga Bogor pergi keluar kota untuk merayakan tahun baru.

Setibanya di Hermina, aku langsung menuju ke loket Lab. Suster di Lab membaca surat rekomendasi cek darah, bertanya apa aku sudah puasa lalu menyerahkan kertas berisi rincian biaya yang harus kubayar di loket kasir. Sambil berjalan ke kasir, aku teringat bahwa yang mengurus pembayaran saat terakhir kami ke Hermina adalah suami, termasuk juga pembayaran konsultasiku ke dokter umum. Kupikir kartuku ada di suami, tapiii koq aku punya firasat kurang bagus nih, karena biasanya aku yang mempersiapkan semua kartu berobat. Aku menoleh ke suami dan bertanya, "Kartu asuransi Bunda ada di Ayah, kan?"

Suami pasang tampang kencang, lalu memeriksa isi tasnya. Dirogoh-rogoh dan diubek-ubek, lalu berkata pelan, "Kayanya ada di tas yang satu lagi di rumah,"

Aku menarik napas dalam. Kartu asuransi itu diperlukan di kasir. Aku melirik ke kertas yang kupegang. Biayanya terlalu lumayan untuk dibayar dengan uang pribadi huhuhu...

Suami menyerahkan Defai yang digendongnya. "Aku balik dulu deh ke rumah. Naik ojek online aja," ujarnya pelan. Aku mengangguk.

Huummm... padahal kukira hari ini semua urusan akan berjalan lancar.

Defai berjalan berkeliling rumah sakit. Aku dan kedua anakku mengikutinya dari belakang. Jalannya masih goyah, tapi tidak ada capeknya. Kadang dia membelok atau berputar tiba-tiba, atau ada orang dewasa yang berjalan cepat-cepat ke arahnya, membuatku harus ekstra hati-hati. Akhirnya aku menyerah.

"Faza, tau kan tukang kue ape? Beli ya. Tadi Bunda lihat ada di dekat gerbang Hermina," aku menyuruh Faza sambil menarik Defai ke sebuah kursi tunggu. Kue pasti bisa membuat Defai diam di tempat. Faza dan Izzan pergi lalu kembali dengan 10 lembar kue ape. Kusuapi Defai pelan-pelan. Trikku berhasil. Defai tidak pergi jauh-jauh. Paling beberapa langkah dari tempatku duduk dan selalu kembali untuk secuil kue. Faza dan Izzan mengunyah kue ape mereka juga.

Manis juga kue ini, lebih manis dari biasanya. Potongan-potongan sisa kue Defai jadi rebutan kakak-kakaknya. Daripada mereka ribut, kumakan saja. Suamiku lama juga pergi mengambil kartu, mungkin ada sekitar satu jam kami menunggu.

Suamiku datang sudah berganti baju dari yang pertama dia pakai. Dia pasti kegerahan di jalan. Aku tambah merasa menyesal saat dia bilang bahwa setibanya di rumah, kepalanya pusing karena kelaparan. Adududuh... :( Sisa kue ape kuserahkan kepadanya.

Langsung kuambil kartu asuransi yang disodorkan suami dan berjalan cepat ke kasir. Aku ingin ini semua cepat selesai. Saat menunggu panggilan, kulirik lagi kertas ditanganku dan aku tertegun. "Gula darah puasa," gumamku pelan. Aku tadi makan kue ape!

Aku terduduk lemas. Ini sudah hampir jam 11 siang, aku sudah 'puasa' hampir 15 jam! Dan semua buyar gara-gara kue ape! Nomorku dipanggil. Aku melangkah gontai ke kasir. Lalu ke Lab.

"Oh, Ibu yang tadi mau cek gula darah puasa ya? Ibu dari tadi masih puasa kan?" suster Lab bertanya sambil melirik ke jam tangannya. Aku tersenyum miring, "Eeuhh... tadi makan kue ape, Sus. Ngga apa-apa kan, ya?" suaraku memelas.

Suster mengernyit, "Berapa banyak kue apenya?"
"Hmm... kayanya dua deh, ngga apa-apa kali ya..." aku hampir-hampir memohon. Tidak terbayang bagaimana wajah suamiku kalau tes darah ini gagal. Dia sudah berlelah-lelah bolak-balik begitu.
"Hmm, kue ape itu manis, Bu. Isinya tepung dan gula. Nanti berpengaruh ke hasil tes gula darah Ibu. Sayang lho Bu, sudah tes mahal-mahal terus hasilnya ngga akurat," suster menjelaskan. Aku mendesah. Kue ape sial! Eh, salah. Aku yang pelupa koq menyalahkan kue ape.
"Lebih baik Ibu puasa lagi nanti malam, lalu ke sini lagi besok pagi-pagi. Jam 7 pagi juga bisa koq," suster itu melanjutkan. Aku mengangguk pasrah.

Aku berjalan lunglai lalu duduk di sebelah suami. Suami memandang wajahku yang sedih dengan wajah bertanya-tanya. Kuceritakan apa yang terjadi, dan suamiku langsung berdiri dari duduknya. "Ayo pulang," ucapnya. Aku menarik ketiga anakku lalu mengikutinya dalam diam. Huhuhu...

Singkat cerita, aku puasa lagi di malam tanggal 30 Desember itu, lalu berangkat ke Hermina esok paginya jam 7 teng, naik ojek online hehehe. Sampai di rumah sakit, langsung ke Lab. Ambil darah 2  menit, lalu diberitahu bahwa hasilnya bisa diambil dalam waktu 3 jam. Aku langsung pulang lagi, sampai di rumah jam 7.30. Cepat sekali ya wkwkwkw....

Alhamdulillah hasil cek darahku baik-baik saja. Semua masih dalam batas aman. Tinggal menjaga pola makan saja sih, semoga kesehatanku masih tetap baik hingga waktunya cek darah lagi tahun depan, dan seterusnya juga... aamiin....



Sumber foto pada judul blog: detikfood.com


6 comments:

  1. Wuah perjuangannya benar-benar panjang dan melelahkan ya mbak T_T
    Gara kue ape, heheheh
    Em, cek kesehatan itu perlu banget, supaya kita tahu kondisi kesehatan diri sendiri. Saya sndiri punya resolusi di tahun ini untuk melaksanakan General Medical Check Up, tp lagi nabung dulu soalnya recehan di celengan belum cukup T_T Syukur Alhamdulillah jika tahu kalo kesehatan kita masih di garis normal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha yg bikin bete adalah aku tuh pelupa bangets wkwkw. Iya aku pun pengin general check up kapan-kapan. Pengen tau kondisi kesehatan yang menyeluruh.

      Delete
  2. Ya ampun mba, ada2 aja deh... Pgn ketawa tp kasian... Alhamdulillah yg penting hasilnya aman ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya alhamdulillah. Pdhal tadinya udah mau insist cek hari itu juga dengan risiko hasilnya ngga bener. Heuuu... untung nurut sama suster wkwkwk

      Delete
  3. Waaah... beneran ada drama-nya deh waktu mbak cek darah hihi... Alhamdulillah hasilnya bagus... :D

    Oiya, kalau untuk general check up tahu nggak ya kisaran biayanya mbak?

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah hehehe.. kemarin untuk cek darah sedikit gitu aja, abis 560rb. Kayanya untuk general check up bisa sampai 2 jt an kali ya ... kaliii...

    ReplyDelete