Wednesday, January 24, 2018

Jalan-jalan ke Taman Wisata Matahari Bagian 2: Berenang dan sholat Jumat


Liburan adalah waktunya bersantai. Karena alasan itu, biasanya kami jarang memilih hari Jumat untuk pergi berlibur. Rasanya kagok, karena ada sholat Jumat yang masjidnya harus cukup besar dan waktunya relatif lebih lama dari sholat lainnya. Tapi bagaimana kalau satu-satunya hari yang tersisa adalah Jumat? Koq bisa sih? Ya bisa dong, kan di hari-hari lainnya kami ada acara lain hehehe...

Kenapa ngga Sabtu atau Minggu saja pergi liburannya? Karena tiket gratis masuk Taman Wisata Matahari tidak berlaku di hari Sabtu dan Minggu, wkwkwk...

Jadi ini adalah bagian 2 dari seri Jalan-jalan ke Taman Matahari. Lanjut yaaa... Jadi kenapa sih maksain banget harus jalan-jalan padahal itu tuh hari Jumat? Ya ngga apa-apa juga sih ya. Tempat Jumatan kan masih bisa dicari. Tapi waktu luang untuk bisa pergi bersama-sama sebagai satu keluarga, ke suatu tempat secara ((( GRATISAN ))) kayanya jarang-jarang ada ya. Ih, kamyu mental gratisan amat sih? Eh, koq situ jadi nyolot sih? Bae weh atuh!


Ya sudah, sudah... koq jadi berantem ya? Jadi gimana ceritanya?

Jadi kami tiba di Taman Wisata Matahari jam sekitar jam 9 pagi. Tujuan utama kami adalah waterpark, sebagai salah satu wahana yang bisa dimasuki (((GRATIS))) asal menunjukkan selebaran undangan. Tapi mengingat kalau hari itu adalah hari Jumat, rasanya kalau kami berenang dulu, kagok dong nanti terpotong Jumatan. Lebih baik kami berkeliling dan mencoba wahana-wahana (((GRATIS))) lainnya terlebih dahulu, baru setelah Jumatan anak-anak berenang, sampai saatnya pulang. Bisa puas berenangnya kalau begitu.

Tiket wahana gratis Taman Wisata Matahari
Jadi kami menuju Menara Pandang, melewati wahana Perahu Karet, salah satu wahana yang juga disediakan (((GRATIS))). Meski masih pagi, antriannya sudah mengular. Hmmm... nanti dulu deh.

Kami terus berjalan dan sampai di Taman Eropa. Lucu juga taman ini, banyak bunga-bunga dan kursi taman yang diatur menyerupai taman-taman di Eropa. Ada juga Kincir Angin kecil seperti di Belanda sana.

Latar belakang kincir air Belanda
Ternyata, antrian untuk naik ke Menara Pandang juga lumayan panjaaang, dan kami malas deh harus menghabiskan waktu mengantri-antri begitu. Lebih baik berjalan lagi dan melihat apa ada wahana lain yang sepi antrian dan bisa kami naiki. Adakah? Ternyata tidak ada Saudara-saudara hahaha...

Jadi, ternyata pengunjung lain pun sepemikiran dengan kami. Mereka juga memanfaatkan momen hari terakhir untuk menggunakan undangan tiket masuk dan beberapa wahana gratis ini. Koq tahu? Ya karena hampir semua pengunjung yang datang memegang lembar undangan yang kami punya juga. Taman Wisata Matahari ini penuh sekali! Dan ini masih pagi lho.

Di dekat Menara Pandang, ada loket Perahu Naga yang sepi antrian. Hmm... asyik nih. Kami langsung mendekat dan dicegat oleh penjaga loket. Ternyata, Perahu Naga ini tidak gratis, tapi kena diskon. Harga tiket normal Rp15.000,00 ternyata didiskon 50% setiap Jumat. Ah, ya cukup murah lah ya untuk berlima, dari pada antri panjang. Jadi kami beli saja tiketnya.

Menara Pandang dan Perahu Naga
Di loket Perahu Naga ini juga, kami diberitahu bahwa wahana waterpark yang kami tuju sudah pasti bakal penuh luar biasa. Kami malah diarahkan ke kolam renang anak yang letaknya tidak jauh dari situ. Tidak (((GRATIS))) sih, tapi pastinya lebih sepi. Harga tiketnya, seperti juga harga tiket Perahu Naga, didiskon 50%.

Jadi bergeraklah kami ke kolam renang anak yang dimaksud, yaitu Taman Air Matahari. Ternyata di sini kolamnya kecil dan dangkal sekali, paling hanya sedalam 60cm. Mbak penjaga loket bilang kalau harga tiketnya Rp15.000,00 per orang.

Taman Air Matahari
"Oh, ngga didiskon ya Mbak? Bukannya kalau Jumat semua wahana diskon 50%?" aku mengulang apa yang diucapkan penjaga loket Perahu Naga.
"Emmm... ngga diskon, Bu. Tapi paling gini aja Bu, tiket untuk lima orang boleh dibayar tiga aja, Bu. Jadi Rp45.000,00 aja," ucap Mbak penjaga loket Taman Air Matahari.
Hmmm... agak aneh. Koq peraturan seperti itu tidak dicantumkan di papan harga yang ada di belakang di Mbak-nya ya.

"Ada kolam lain sih sebelah sini, tapi Ibu lihat aja dulu. Kayanya sih lagi dikuras," sahut si Mbak, melihat kami masih berdiri saja dan ragu-ragu.

Kami mengucapkan terima kasih dan berjalan ke samping, dan menemukan kolam renang yang kecil juga tapi tampak lebih dalam dengan air berwarna hijau... eewww... Abang penjaga kolam bilang kalau kolam sedang ditutup untuk dikuras. Pantas saja.

Kami sempat kebingungan beberapa saat. Ada kolam Taman Air Matahari yang sepi, tapi kecil sangat dan tidak gratis. Ada kolam yang lebih dalam, tapi ditutup. Ada kolam besar waterpark nan (((GRATIS))), tapi 'katanya' penuh. Hmmm... lebih baik kita pastikan dulu nih status waterpark ini, apa benar penuh?

Maka turunlah kami hampir ke pintu gerbang Taman Wisata Matahari dan menemukan bahwa waterpark itu benar-benar penuhhhhhh....!!!! Jadi kami kembali ke atas wkwkwkw...

Anak-anak pun paham bahwa berenang di tempat yang sangat padat tidak akan nyaman dan mereka menerima untuk berenang di kolam renang kecil itu. Yah, yang penting bisa kena air dan cibang-cibung lah ya.

Kolam renang anak Taman Air Matahari

Kapal laut imut di Taman Air Matahari
Tidak terasa, waktunya sholat Jumat tiba juga. Pak Suami sudah tanya-tanya ke penjaga loket dan mendapat konfirmasi bahwa mushola Taman Wisata Matahari tidak digunakan untuk sholat Jumat. Masjid terdekat untuk sholat Jumat ada di dekat lapangan parkir mobil. Humm... lumayan juga ya jauhnya.

Faza dan Izzan mandi sebentar lalu bersama ayahnya pergi sholat Jumat. Defai anteng makan pilus bersamaku. Lamaaaaa rasanya aku menunggu, sampai akhirnya mereka kembali sekitar jam 13.30. Sambil makan siang, Pak Suami cerita tentang petualangan mereka mencari masjid.

Mereka harus bertanya-tanya di mana letak masjid ini, yang ternyata adalah masjid kampung, di luar kawasan Taman Wisata Matahari. Masjid ini penuuhhhh dengan jamaah. Bisa kubayangkan deh penuhnya, terutama di hari ini saat pengunjung lebih membludak dibanding hari-hari Jumat lainnya. Antrian wudhunya panjang dan tempat sholat terbatas pastinya. Suami bercerita bahwa untuuuung saja mereka masih kebagian tiga slot, dan hanya tiga slot itu yang masih tersisa! Setelah selesai sholat antrian untuk mengambil sandal juga lamaaa hahaha...

Semakin siang, kolam renang ini juga ternyata semakin penuh. Mungkin mereka pun tidak tertampung oleh waterpark itu. Kami selesai berenang sekitar jam 15.30, sholat ashar di ruang di belakang loket, lalu turun ke tempat parkir.

Cuaca mendung di sore hari itu membuat kami sedikit bergegas. Tapi koq saat melewati Menara Pandang, tidak ada antrian yang terlihat! Kami pun naik dan ternyataaaaa.... Menara Pandang itu... begitulah...

Hanya menara setinggi sekitar 15 meter mungkin, dengan tangga curam sempit untuk naik dan turun. Saking curamnya sampai-sampai Izzan gemetaran. Pemandangan dari atas cukup luas, dan sepertinya jeruji-jerujinya memerlukan pemeliharaan. Ada penyewaan teropong dengan biaya Rp5000,00 kalau-kalau pengunjung ingin melihat lebih jauh lagi.
Pemandangan dari atas Menara Pandang
Turun dari Menara Pandang, kami semakin bergegas ke tempat parkir. Eh lagi-lagi, kami melewati wahana Perahu Karet dan antriannya tidak terlalu panjang juga! Ah, jangan dilewatkan deh. Meskipun saat mendayung tiba-tiba hujan turun, setidaknya rasa penasaran anak-anak, dan aku :) untuk naik perahu karet terpenuhi juga.

Row row row your rubber boat...
Kami pulang jam 17.00 dari Taman Wisata Matahari. Kalau boleh jujur, ada beberapa hal yang mungkin bisa jadi catatan hasil perjalanan kami:
  • Kalau tidak mau repot membuat bekal, masih bisa koq makan siang atau cemal-cemil dengan harga terjangkau di Taman Wisata Matahari. Kami memang tidak mampir ke restoran di sana, tapi ada banyaaaakk sekali tukang bakso, tukang siomay dan tukang makanan lain, terutama sekali di sekitar Pusat Belanja Oleh-oleh. Cukuplah untuk sekadar mengganjal perut. Menurut kami sih, harganya pasti cukup bersaing saking banyaknya tukang jual makanan.
  • Ada Alfamart di dalam Taman Wisata Matahari yang selisih harganya tidak sekejam Alfamart di lokasi wisata lain hehehe... Jadi tidak perlu berat-berat juga bawa air minum banyak-banyak dari rumah. Beli saja di sini. Koq penting? Iya buat kami, karena kami keluarga peminum air putih jadi harus selalu sedia air putih banyak hehehe...
  • Masukan untuk penjaga loket kolam renang, lebih ketatlah menjaga pagar di sebelah kiri ruang tunggu. Pagar di situ cukup rendah sehingga memudahkan orang keluar masuk tanpa melalui loket, pastinya tanpa membeli tiket juga kan?
  • Mohon dipasang peraturan tentang harga tiket resmi yang dijual. Seperti sudah kugambarkan di atas, harga tiket masuk kolam renang Taman Air Matahari koq agak-agak 'fleksibel' begitu ya? Tiket masuknya pun ternyata adalah tiket penitipan sepatu :)
Yah, bagaimanapun juga, secara keseluruhan menurut kami Taman Wisata Matahari memang tempat wisata yang cukup ramah di kantong meskipun pada akhirnya, demi kenyamanan kami sendiri, kami rela membayar untuk sebagian wahana.


2 comments:

  1. Warna-warni taman matahari, beberapa kali ngerencanain ke sana batal terus, anak2 pasti suka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya anak-anakku juga suka, ditanya mau ngga ke sini lagi? Jawabnya: Mauuuu :)

      Delete