Thursday, January 4, 2024

Demi Masa, aku Gak Rebahan Aja. Ini Pencapaianku di Tahun 2023! - Bagian 1

Isi blogpost ini berasal dari tantangan akhir tahun 2023-nya Uni Dian Onasis dengan tema Penulis itu Produktif hanya dengan Rebahan ... tapi Boong. Jadi kami Forseners yang berminat mengikuti tantangan ini harus menuliskan semua pencapaian di tahun 2023 sejak Januari hingga November, plus segala hal yang membuat diri sendiri bahagia melakukannya, dan juga ucapan selamat dan saran bagi diri sendiri. 

Berat yaa ... but here I go!

*****

Aku suka baca cerita detektif. Kadang nonton film tentang kejahatan dan persidangan. Di banyak cerita, ada penggambaran tentang kesaksian di pengadilan. Saksi atau tersangka ditanya oleh pengacara atau jaksa, tentang di mana dan apa yang mereka kerjakan bulan sekian, pada hari sekian pukul sekian.

Dan aku selalu berpikir, “Amazing, bagaimana mereka ingat apa yang dilakukan bulan sekian, pada hari sekian pukul sekian?” Karena aku sering lupa apa yang baru saja aku lakukan kemarin pukul 13.30. Apalagi pekan lalu, apalagi bulan sekian. Apa para saksi dan tersangka itu punya diari atau jurnal? Mereka mencatat dengan lengkap ke mana mereka pergi, apa yang dilakukan dan siapa yang ditemui? Lah, malah mencurigakan kalau begitu, kan? Seakan mereka memang mempersiapkan alibi. 

Anyhow, jadi itulah salah satu pentingnya membuat diari, jurnal, atau catatan apa pun namanya itu. Dalam kasusku saat ini, adalah untuk menyediakan ‘alibi’ bahwa aku tidak melakukan ‘kejahatan rebahan doang’. Bahwa aku ternyata melakukan sesuatu, loh. Alibi untuk siapa? Untuk Uni Dian yang menggagas minikuis akhir tahun 2023? Untuk Uni Dian yang tampaknya berpikir bahwa rebahan adalah kejahatan berat bagi penulis? Seharusnya bukan. Seharusnya ini adalah pembuktian dan bentuk penghargaan bagi diri. 

Jadi sebelum aku mengoceh lebih panjang lagi (padahal seharusnya gapapa sih, gak ada batas maksimal jumlah kata di minikuis ini) aku lebih baik mulai mendaftar apa saja pencapaianku selama 2023. Oiya, metode yang kulakukan untuk membuat daftar ini adalah dengan memandangi IG (yang jarang ku apdet), FB (sama, jarang apdet juga), mengubek-ubek WA, dan mengandalkan ingatan yang sangat kurang bisa diandalkan. Jadi apakah hasilnya bisa dipertanggungjawabkan? Yah, alhamdulillah catatan ini tidak akan diajukan sebagai barang bukti di pengadilan, sih. 

Pencapaian di Tahun 2023


Yuks, kita mulai …. 

Januari 2023


Menurut IG, highlite di bulan ini adalah aku sedang sibuk menata hati karena sedih kalah di Scarlet Pen Award 2023 haha … Ketawa sekarang mah, padahal dulu saking kacaunya perasaan sampai salah nyuapin anak, malah nyuapin suami. Sedihnya lebih karena aku merasa kurang usaha untuk bisa menang. Seharusnya usahaku bisa lebih keras. Aku selalu bilang ke anak-anak, yang penting adalah do your best. Jangan sampai ada penyesalan karena kurangnya usaha. Lah, akunya juga begitu ternyata. Sad

Sumber: IG @scarletpenawards dan @astrid_prasetya


Tanggal 10, aku ikut pelatihan Tips Trik Menulis Cerita Anak, tema Kearifan Lokal yang diampu oleh Teh Lina Herlina. Aku memilih menulis tentang daun patat, pembungkus banyak makanan khas Bogor. Idenya dari makanan favorit suami yaitu doclang. Pesor alias lontong-nya doclang ini khasnya dibungkus oleh daun patat ini. 

Sumber: foto dokumen pribadi.


Tanggal 26, aku masuk ke WAG Geng Pejuang yang dibentuk Mbak Upin Yusfin Rahayu. Ini dalam rangka mengikuti keramaian di Paberland soalan BB di berbagai provinsi dan GLN. 

Tanggal 31, kirim naskah untuk antologi kelas fiksi Achi TM

Februari 2023. 


Dalam rangka belajar pictbook dan karena tergiur oleh banyak ulasan tentang kapabilitas mentornya, di bulan ini aku ikut kelas menulis pictbook yang diampu oleh Mbak Nurhayati Pujiastuti dan Mbak Tyas KW. Aku lupa tanggalnya, namun kelasnya sungguh berkesan. Mentor-mentornya beneran keren, dan gaya ngajarnya oke bingits lah. Di akhir kelas, Mbak Nur menyarankan aku untuk mengikutsertakan naskahku ke lomba. Tentu aku menjawab iya dengan sopan. 

Sumber: IG @astrid_prasetya

Maret 2023


Salah satu IG post-ku bercerita tentang gembiranya aku karena anak-anakku di pondok sering minta dikirimi novel. Aku berbesar hati bahwa kesukaanku membaca bisa menurun pada mereka dan kegemaranku hoarder buku tidak sia-sia. 

Aku juga ikutan Workshop Menumbuhkan Kecintaan Anak pada Buku dan Membaca, yang diadakan oleh RoomtoRead, Provisi Education dan berGuru. Salah satu alasan aku ikut workshop ini adalah untuk tahu cara membaca pictbook yang baik dan benar, untuk bisa menerapkannya pada Defai. And it worked! Defai beneran jadi suka dibacakan buku loh, saat aku menerapkan trik-trik yang diajarkan di workshop ini. But note that I used past tense: worked. Kenapa begitu? Karena aku tidak mempraktikkannya lagi. Sad. 

Sumber: IG @astrid_prasetya dan foto dokumen pribadi.


Di bulan ini juga aku mendapatkan kesempatan untuk memandu acara Forsen yaitu Temu Editor bersama Mbak Ika Wijayati, Editor Gema Insani Press, pada 5 Maret 2023. Deg-degan jadi MC, tapi sangat excited karena ada banyak wawasan yang aku dan teman-teman Forsen dapatkan dari zoomeet ini. 

Sumber: IG @astrid_prasetya

Di saat yang sama, kami di WAG Geng Pejuang sedang sibuk nge-draft buat ikutan BB dan GLN. Aku hanya fokus pada BBJB. Aku mengamati saja kesibukan teman-teman yang ikut GLN dan mencari ilustrator. Di bulan ini juga dihelat Forsenbooks Camp Batch 3, parade menulis cerita anak dalam bentuk novel atau novelet dengan genre misteri atau detektif. Aku ikutan daftar, dong. 

Tanggal 28 di-chat oleh Mbak Nur, untuk mengikutsertakan naskah di kelas beliau ke GLN. Shock. Aku sama sekali tidak terpikir untuk ikut GLN dan hanya fokus ke BBJB. Demi Mbak Nur, aku berjibaku mencari penerjemah dan ilustrator. Alhamdulillah tetangga depan rumah yang orang Solo mau jadi penerjemah, dan dapet Mbak Indy sebagai ilustrator di tanggal 29 Maret. Di 30 Maret, kirim naskah ke Mbak Indyastari Citraningtyas untuk mulai diilustrasi.

Apa yang terjadi di bulan April dan seterusnya, akan ada di postingan kedua yaaa :)

No comments:

Post a Comment