Monday, February 3, 2020

Menjaga Hutan, Menjaga Sumber Pangan

Terus terang, pengalamanku 'bermain' di hutan tidaklah banyak. Hanya dua kali ke Gunung Gede-Pangrango saat SMA dan kuliah, jelas tidak membuatku seorang ahli di bidang jalan-jalan atau petualangan ke hutan.

Apalagi, aku si Anak Bawang biasanya jalan kedua paling belakang, terengah-engah menggendong carrier sambil didorong oleh teman supaya tidak terlalu tertinggal barisan *tutup muka karena malu.

Tetap saja, dua perjalanan itu menyisakan kenangan. Salah satu hal yang paling kusuka saat naik gunung adalah ... saat istirahat di posko? Hehehe bukaaan! Jalan turunan sehingga kaki tidak terlalu berat melangkah? Bukan juga!


Yang kusuka adalah mengamati pemandangan di sekelilingku. Ya, karena memandang ke depan terus kadang malah bikin frustasi hehehe ... jadi kepikiran kapan yaaa sampai ke puncak. Jadi mending lihat-lihat ke kiri dan kanan, banyak pohon cemara ....

Jalan setapak di hutan
Bukan cuma pegunungan yang memiliki hutan. Hutan juga ada di dataran rendah bahkan pesisir pantai pun memiliki hutan bakau. Hutan juga bukan hanya berisi pohon. Ada semak-semak, bunga hutan, rawa dan semua fauna yang hidup di dalamnya.

Pohon pastinya adalah komponen utama hutan. Mungkin dari pohon, hutan mendapatkan nyawanya. Pepohonan menyerahkan daun-daun kuningnya untuk menjadi penyubur tanah tempat tinggal semua yang hidup di hutan. Pepohonan merelakan ceruk-ceruk batang dan dahannya untuk menjadi tempat tinggal aneka jenis burung dan mamalia. Akar-akar besar yang bergelantungan senang menjadi alat bermain kera dan monyet.

Jika hutan kehilangan pohon-pohonnya, maka bukan hutan lagi namanya ...

Aku pernah dengan sangat terpesona memandang lewat teropong, seekor monyet yang duduk di atas pohon memakan sesuatu. Aku ingat, seorang senior berkata bahwa kami harus menjaga jarak dengan binatang hutan, apa pun itu. Pertama-tama tentu saja karena mereka adalah binatang liar, yang bisa jadi agresif dan menyerang jika merasa terganggu. Kedua, mungkin saja mereka memiliki penyakit tertentu yang bisa ditularkan pada kita.

Nah, sisa-sisa buah bekas gigitan binatang, bisa jadi petunjuk penting lho tentang apa yang bisa kita makan di hutan. Tentu saja, tidak semua yang bisa dimakan binatang bisa juga dimakan oleh manusia.

Dari africafreak.com, aku mengetahui cara untuk menentukan apakah suatu jenis buah atau beri liar aman untuk dimakan:

  1. Buka, kupas atau belah buah, beri liar, daun atau bunga dan cium aromanya. Jika beraroma seperti pahit atau seperti almond, singkirkan.
  2. Jika buah tidak beraroma pahit, gosokkan dulu daging buahnya ke kulit. Jika setelah beberapa saat, timbul bercak atau mintik kemerahan atau gatal-gatal, singkirkan.
  3. Jika buah telah lolos uji kulit, gesekkan ke bibir. Jika bibir terasa gatal, singkirkan buah itu.
  4. Nah, jika buah tidak menimbulkan gatal di bibir, kunyah buah itu tetapi jangan dulu ditelan. Jika timbul rasa tidak nyaman di mulut, muntahkan.
  5. Jika buah tidak menimbulkan rasa tidak nyaman di mulut, maka buah dapat ditelan. Tunggu hingga sekitar 2-4 jam, karena itulah waktu yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna makanan. Jika perut dirasa tidak nyaman, jangan lanjutkan mengonsumsi.
  6. Jika buah, daun dan bunga telah lolos kelima tahap di atas, maka diperbolehkan mengonsumsinya. 

Buah beri liar
Selain dari pohon dan semak, aliran air yang ada di hutan juga bisa jadi berisi hewan-hewan yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Sungai sangat mungkin berisi ikan-ikan tentu saja. Tetapi yang paling kusuka adalah ... udang tawar!

Udang adalah salah satu hewan air yang selain sangat enak rasanya, juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Udang mengandung protein, antioksidan, yodium dan asam lemak omega-3 serta kalsium.

Tentu saja kalau di rumah, udang akan dimasak dengan bumbu komplit seperti duo kembar bawang merah bawang putih, cabai, tomat, jahe, daun salam dan sereh. Tidak lupa gula garam, merica dan saus tiram. Tetapi di alam, udang tawar segar akan terasa sedap meski hanya dibakar di atas api saja, lho! Sebelum dibakar, kucurkan sedikit perasan jeruk lemon pada udang lalu oleskan kecap manis ... ya ampuuun ... jadi lapar kan aku membayangkannya!

Udang bakar yummy...
Biasanya, para pendaki akan membawa sedikit bumbu dasar yang sudah jadi untuk keperluan memasak. Bersihkan udang sesuai selera, misalnya dengan membuang kepala dan membelah punggungnya. Jika udang cukup besar, kulitnya bisa juga dibuang. Siapkan api dan penggorengan, masukkan udang beserta bumbu. 

Kamu harus tahu makanan ini karena ... yah, sayang sekali kalau kamu lagi berjalan melintasi hutan, melihat sungai jernih lalu kehilangan kesempatan icip-icip lezatnya udang air tawar bakar! Apalagi hasil tangkapan sendiri! Hmmm ....

Memasak udang

Udang air tawar bakar
Menurut peneliti LIPI, udang air tawar adalah indikator mutu air sungai. Ini karena udang sangat sensitif terhadap kondisi kebersihan air singai. Jika air sungai kekurangan oksigen, udang akan mati. Maka jika sungai yang kita temui di hutan masih dihuni oleh udang, bersyukurlah karena itu berarti sungai itu masih memiliki mutu air yang baik. Air sungai yang baik, tentu berarti hutan yang asri juga.

Kadang sedih rasanya melihat berita-berita tentang banyaknya sampah yang disisir oleh para aktivis lingkungan dari hutan dan sungai. Entah mengapa, para pengunjung hutan kita masih banyak yang belum menyadari pentingnya menjaga keasrian dan kebersihan lingkungan. Apa susahnya tidak membuang sampah sembarangan, membawa pulang sampah yang kita bawa kembali ke rumah? :(

Jangan ambil apa pun kecuali foto, jangan tinggalkan apa pun, kecuali jejak kaki.

Kerusakan hutan yang lebih besar, datang dari kekuatan yang lebih besar. Menurut databoks.katadata.co.id, data dari World Resources Institute menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam daftar 10 negara dengan angka kehilangan hutan tropis tertinggi di tahun 2018. Indonesia kehilangan 339.888 hektar hutan ropis di tahun tersebut. Kebakaran hutan, pembukaan lahan perkebunan sawit dan pengalihan wilayah hutan menjadi wilayah pemukiman menjadi sebab terjadinya deforestasi.

Ah, berat rasanya jika memikirkan angka-angka itu, bukan? Tetapi sesuatu tetap harus dilakukan untuk mengatasi terus hilangnya hutan kita, bukan?

Lakukan apa yang kita bisa. Ada banyak cara dan upaya. Mulai dari diri sendiri dengan tidak membuang sampah sembarangan saat pergi ke hutan, misalnya. Atau melalui organisasi seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau WALHI.



WALHI adalah organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia yang aktif mendorong penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup.

WALHI berdiri sejak tahun 1980. Organisasi ini terus bekerja untuk mendorong terwujudnya pengakuan hak atas lingkungan hidup, dilindungi dan dipenuhinya hak asasi manusia sebagai bentuk tanggung jawab Negara atas sumber-sumber kehidupan rakyat.

Memang pada kenyataannya, hutan Indonesia kian hari terus berkurang. Memang kita memiliki kebutuhan yang nyata akan lahan, tetapi hutan adalah sumber makanan.

Hutan sumber pangan. 

Hutan paru-paru bumi.

Tanpanya kita akan sesak. Mungkin seperti udang yang mati tanpa oksigen yang cukup dalam sungai, jika hutan menghilang dari muka bumi, manusia pun akan turut menghilang bersamanya ....



Sumber data:

- https://africafreak.com/how-to-survive-in-the-african-savannah
- https://www.alodokter.com/ini-manfaat-udang-sesuai-kandungan-nutrisinya
- https://sains.kompas.com/read/2015/07/23/04000021/Udang.Tawar.Indikator.Alami.Mutu.Sungai
- https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/08/20/inilah-deforestasi-di-indonesia-periode-1990-2017
- https://walhi.or.id

2 comments:

  1. Saat berada di hutan, cara menentukan buah untuk dimakan perlu juga ya dipelajari

    Kangamir dot com

    ReplyDelete
  2. Wah terima kasih tipsnya bermanfaat

    ReplyDelete