Monday, September 25, 2017

Saat Ayah Donor Darah


Ayah pulang dari kantor sambil membawa bungkusan. Isinya satu kotak susu cokelat, satu kotak jus jeruk, satu pisang goreng, satu tahu isi dan satu amplop Hufabion.

"Ayah tadi abis donor darah," sahut Ayah, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan ganti baju.


Faza langsung mengklaim jus jeruknya, Izzan kebagian susu cokelat. Bunda ikhlas dapat pisang goreng dan tahu isi saja.

Sambil menghangatkan pisang goreng, Bunda membaca tulisan di amplop tablet Hufabion. Agak terharu juga membacanya.




"Apa itu Bun?" tanya Faza.
"Ini..." ujar Bunda sambil mengangsurkan amplop itu. Faza mengambil dan membacanya.
"Aa Faza ngerti?" tanya Bunda.
"Ngga terlalu... 'Sdr.' artinya apa, Bun?" Faza bertanya balik.
"'Sdr.' itu singkatan dari 'Saudara'. Aa tau maksudnya 'donor darah'?" tanya Bunda. Faza menggeleng sambil menyesap jus jeruknya pelan-pelan.

"Donor darah itu berarti menyumbangkan darah. Ayah tadi menyumbangkan darah, diambil darahnya, untuk yang membutuhkan." jelas Bunda.
"Siapa yang butuh darah?" tanya Faza. Kaka Izzan duduk diam di depan tivi sambil memegang kotak susu cokelatnya.

"Banyak yang membutuhkan darah. Misalnya yang sakit, yang dioperasi atau yang kecelakaan, terus dia terluka, terus berdarah banyak. Nah, dia kan jadinya kekurangan darah dalam tubuhnya. Butuh tambahan darah. Tambahan darahnya mungkin dari darah Ayah. Darah Ayah tadi itu dimasukkan dalam kantong. Terus disimpan. Nanti kalau yang orang kecelakaan itu butuh, tinggal ambil aja terus dimasukkan ke tubuh orang itu. Namanya transfusi darah." Bunda menjelaskan lebih panjang. "Aa Faza udah ngerti?"

Faza mengganguk perlahan, tampaknya belum terlalu mengerti. Bunda tersenyum. Ayah menghampiri dan duduk di samping Bunda.

"Nah, makanan dan minuman tadi itu mestinya untuk Ayah, karena Ayah sudah diambil darahnya dan perlu makan banyak untuk mengganti darah yang diambil. Biar ngga lemes." sahut Bunda sambil mengunyah pisang goreng hangat.

Kaka Izzan tiba-tiba bangkit dan menyodorkan susu cokelatnya. "Ini, Yah. Ayah lebih butuh karena Ayah sering kecelakaan dan kekurangan darah,"

Ayah terpana. Bunda hampir saja terkikik geli. Dasar Izzan, suka mendengarkan sepotong-sepotong. Ayah mengambil kotak susu itu, terdiam sejenak sambil menimangnya. "Ih, tinggal sedikit gini juga..." gerutu Ayah, antara geli dan sebal. Bunda benar-benar tertawa sekarang.


No comments:

Post a Comment