Wednesday, June 21, 2017

Membayar PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) di Kantor Pos


Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ini terus terang adalah pajak yang paling sering terlewatkan pembayarannya oleh kami. Yah, suami kan bekerja, aku susah keluar rumah kalau ngga ada suami yang mengantar, terus kertas form PBB itu kecil jadi suka terselip dan terlupakan (maaffff hehe) dan masih ada mindset bahwa PBB ini hanya bisa dibayarkan di Bank BJB saja. Bank-bank itu kan Sabtu-Minggu tutup ya? Jadi walaupun form PBB sudah didapat di awal tahun dan tenggatnya lama sampai September, kami suka telat aja tuh bayarnya hhhh....


Nah, tahun ini kami membayar PBB di kantor pos.

Bukan kebetulan, karena memang kami sedang mengurus satu dan lain hal di suatu bank (bukan Bank BJB) di Jl. Ir. H. Juanda hari Jumat itu, dan Kantor Pos Pusat Bogor ada di seberangnya. Suami sengaja nih ambil cuti Jumat ini untuk mengurus urusan bank dan PBB. Kami tadinya tidak yakin, tapi ternyata ada dinyatakan di bagian belakang form PBB, bahwa pembayaran PBB bisa dilakukan di kantor pos.

Jadi setelah selesai urusan di bank, kami buru-buru melintas jalan menuju kantor pos. Buru-buru ya, karena waktu itu sudah jam 11.30an, suami sudah harus cari masjid untuk sholat jumat. Aku ambil nomor antrian dan dapat nomor 252 padahal di layar tertera nomor terakhir yang dilayani adalah nomor 211... weww!



Yah mau bagaimana lagi, sudah kepalang. Mending tuntaskan sajalah! Jadi suami menggantungkan ranselnya di pundak kiriku, tas baby di pundak kanan dan Defai di gendongan depan. Sipp! Aku siap menanti 41 nomor! Setelah dadah-dadah dengan Pak Suami, aku mulai jalan-jalan berkeliling di dalam kantor pos.

Aku jarang ke kantor pos, karena memang jarang ada urusan juga sih. Ruang utama kantor pos ini lapang sekali, dengan atap yang tinggi khas gedung peninggalan jaman Belanda. Jendela-jendelanya besar, memberikan ventilasi dan sinar matahari yang cukup.



Kursi-kursi cukup banyak disediakan untuk nasabah atau customer yang menunggu dilayani. Ada tujuh loket yang sedianya siap sedia, tetapi waktu itu ada satu loket yang tutup. Dengan pelayanan yang cepat, setiap nasabah mendapatkan waktu pelayanan sekitar 2-5 menit setiap orangnya, tergantung urusannya juga ya.

Setelah berpegal-pegal berjalan berputar-putar sambil menggendong tiga gembolan, dan menghibur Defai yang mulai lapar tetapi belum bisa kususui karena nomor di layar semakin mendekat ke angka 252, akhirnya nomorku dipanggil juga yeay!


Aku berjalan ke loket 9 dan disambut Mbak Widda yang manis. Aku hanya menyerahkan form PBB, Mbak Widda ketak-ketik sebentar di komputernya lalu menyebutkan jumlah yang harus aku bayarkan. Aku serahkan uang, menerima kembalian, semua selesai dalam waktu dua menit!

Aku bergegas ke pojokan yang sepi, lalu aku menyusui Defai yang rewel. Di jam istirahat, tidak ada orang-orang yang berseliweran jadi aku tenang menyusui Defai. Sambil menyusui, aku berpikir-pikir, di mana ya kira-kira ruang menyusui di sini. Pastinya kalau ada ruang menyusui, lebih lengkaplah fasilitas kantor pos ini. Hehe, dasar emak-emak menyusui ya. Sekarang, bagiku standar kenyamanan suatu tempat bertambah dengan ada tidaknya ruang menyusui.

Secara keseluruhan, pelayanan pembayaran PBB di kantor pos cukup memuaskan. Pelayanannya ramah, cepat dan efisien. Apalagi, kantor pos banyak tersebar. Ngga ada lagi deh alasan untuk telat bayar PBB :)


4 comments:

  1. Aku belum bayar pajak, harus segera ngurus nih

    ReplyDelete
  2. kalau telat 1 minggu dendanya brpaa sih ya? tenggat nya tgl 31 agustus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau lihat di PerMenKeu No. 78/PMK.03/2016, dendanya sebesar 2% tiap bulannya. Ayo jangan telat, kan 31 Aug masih beberapa hari lagi. Sempatkan bayar yaaa :)

      Delete