Friday, August 28, 2020

Yuk, Ajak Anak Kita Lestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan

"Katanya ada hantu di hutan di atas tebing."

Aku mengerutkan kening. "Kata siapa?" 

"Kata yang punya rumah dekat tebing. Suka kayak ada yang lewat di sela-sela pohonnya kalau malam. Terus ada juga suara-suara aneh gitu," jelas anakku dengan kening berkerut.

Aku tersenyum, lalu kembali ke serious-mode saat anakku cemberut. 

"Bunda percaya, hutan itu memang ada penjaganya," ucapku sambil mengangguk-angguk.

Anakku menatapku tak percaya.

"Beneran! Kamu tahu enggak, kenapa hutan itu perlu dijaga?" tanyaku sambil mengangkat-angkat alis.

"Ah, Bunda mah bercanda aja!" gerutu anakku kesal.

Aku kembali tersenyum, merangkulnya lalu mulai bercerita tentang para penjaga hutan.



Di kompleks perumahan kami memang masih banyak berdiri pohon-pohon besar. Khusus blok tempat rumahku berada, dekat dengan tebing yang dinding dan puncaknya masih rimbun. Pohonnya tidak banyak sekali, tetapi lumayan tinggi-tinggi dan rapat tumbuhnya. Anak-anak kadang menyebutnya hutan. Jarak rumahku tidak terlalu dekat dengan tebing, mungkin sekitar 10 rumah tipe 36 jauhnya. Di belakang 'hutan' itu, ada kebun dan perkampungan penduduk.

Jika ada anggapan bahwa hutan itu ber-'penjaga', aku setuju. 'Si Penjaga' ada di sana untuk menjaga wilayahnya, dan menjaga kami juga.

"Maksud Bunda, hantu hutannya menjaga kita?" tanya anakku sambil mengerutkan kening.

"Maksud Bunda adalah, keberadaan hutan itu menjaga kita. Kamu tahu apa fungsi hutan?"

Si kelas 1 SMP itu tersenyum lebar. "Tahu lah. Kata Pak Ustadz, hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan juga jadi sumber daya alam, seperti kayu, buah dan bahan obat."

Aku mengangguk. "Hutan juga sebagai tempat hidup flora dan fauna, dan pengendali bencana," tambahku.

"Pengendali bencana?" ulang anakku heran.

Aku mengangguk lagi lalu menjelaskan tentang betapa banyak bencana yang ditimbulkan oleh kerusakan hutan, seperti banjir yang melanda daerah yang lebih rendah karena hutan-hutan di daerah yang lebih tinggi digunduli. Atau longsor saat hujan deras karena tidak ada akar tanaman yang menahan laju aliran air deras.

"Kalau tebing di belakang itu bisa longsor juga, Bun?"

"Bisa saja. Karena itu pohon-pohon yang memang sejak dulu telah ada di sana, dibiarkan tetap tumbuh. Akarnya mengikat tanah. Bayangkan kalau tebing itu longsor, betapa parah akibatnya untuk rumah yang ada di bawahnya."

Anakku bergidik ngeri. 

"Kamu tahu bahwa selain flora dan fauna, ada juga masyarakat yang tinggal di hutan?" tanyaku.

"Tinggal di dalam hutan?" Anakku balas memastikan.

"Ya. Sebenarnya, sekitar 300 juta orang di seluruh dunia, tinggal di hutan. Diantaranya ada sekitar 60 juta masyarakat adat. Mereka menggantungkan hidup dari hutan, baik dari tanaman maupun hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Bayangkan kalau hutan-hutan itu rusak. Kehidupan orang-orang itu juga akan terancam."

"Yah, mereka kan tinggal pindah ke kota. Lebih enak tinggal di kota seperti kita. Mau ke mal gampang, hehehe." Anakku cengengesan.

Aku menggeleng sambil mengusap kepala anakku. "Tidak semudah itu, dong. Mereka sudah turun temurun tinggal di sana. Mereka telah membentuk adat kebiasaan berdasarkan tempat tinggal mereka. Dan sebenarnya, hutan memang menyediakan sumber daya alam yang sangat berlimpah. Pepohonan yang dapat dikonsumsi dan juga hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Dan sebenarnya, kita orang-orang kota ini, berhutang budi kepada mereka." 

"Kok bisa?"

"Hutan memberikan banyak manfaatnya kepada kita. Kamu sendiri sudah menyebutkan beberapa diantaranya tadi. Sebagai balas jasa, kita harus balik menjaga hutan. Nah, masyarakat yang tinggal di hutan, mereka lah penjaga hutan yang sejati. Mereka tinggal di sana dan menjaga keberadaan hutan karena tahu jika hutan rusak, kehidupan mereka pun akan terganggu. Kehidupan kita yang hidup jauh dari hutan, juga akan terdampak! Masyarakat hutan menjaga paru-paru dunia, sementara orang kota seperti kita, malah merusak hutan."

Anakku menunduk.

"Tapi kita juga bisa lho ikut menjaga hutan," ujarku menyemangatinya.

Wajah itu terangkat lagi. "Bagaimana caranya, Bunda?"

"Pernah dengar tentang adopsi hutan?"

"Adopsi hutan? Bukannya adopsi hanya untuk anak-anak dan ... eh, anak kucing ya?"

Aku terkekeh geli. "Adopsi hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapa pun di mana pun bisa terhubung langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya."


"Maksudnya bagaimana, Bunda?"

"Maksudnya ... semua lapisan masyarakat, siapa pun itu dan di mana pun dia, dapat ikut serta dalam kegiatan memelihara hutan. Kita bisa berdonasi lewat kitabisa.com. Hasil donasi akan disumbangkan kepada organisasi pendamping masyarakat yang tinggal di sekitar hutan yang masih menjaga hutan agar tetap lestari," jelasku. 

"Jadi mengadopsi hutan itu sama dengan memelihara hutan, ya, Bun?" Anakku menegaskan. 

"Betul! Seratus untuk anak Bunda yang ganteng!"

Anakku menyeringai, lalu mengerutkan kening. "Tapi kan di sekitar sini enggak ada hutan. Eh, kecuali yang di atas tebing." 

"Eits, jangan salah. Hasil donasi itu nantinya akan diserahkan kepada komunitas penjaga kelestarian hutan di 10 hutan di Indonesia, yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara. Komunitas-komunitas itu akan menggunakan dananya untuk memastikan kelestarian hutan, seperti patroli dan pengembangan masyarakat yang tinggal di hutan seperti di bidang pendidikan dan kesehatannya. Jadi nanti, semoga pendidikan anak-anak masyarakat hutan tidak akan tertinggal lagi.

"Pemerintah Indonesia juga sangat mendukung kegiatan pelestarian hutan. Tanggal 7 Agustus telah ditetapkan sebagai Hari Hutan Indonesia. Tidak butuh tindakan heboh untuk melestarikan hutan. Adopsi hutan adalah cara yang sangat simple dan dapat dilakukan oleh masyarakat kebanyakan, tua maupun muda, untuk ikut serta melestarikan hutan." 

"Keren! Aku juga bisa ikut adopsi hutan, Bun?" 

"Bisa dong! Kamu mau? Nanti nama kamu akan tercatat sebagai penjaga pohon di suatu hutan di Indonesia."

"Benarkah?"

"Tentu! Dan pohon itu akan berterima kasih dengan memberikan lebih banyak oksigen, lebih banyak bunga dan buah!"

Adopsi Hutan
Tanda pada pohon yang diadopsi. Gambar dari hutanitu.id.

Mata anakku berbinar-binar. Tiba-tiba dia tertawa geli. Aku heran melihatnya.

"Kenapa tiba-tiba tertawa?" tanyaku.

"Jadi nanti aku bakal jadi penjaga hutan, seperti 'penjaga hutan' yang di atas tebing, dong."

Aku ikut tertawa. "Kamu masih takut sama hutan di tebing?"

"Enggak lah," ucap anakku acuh. "Yang katanya lewat di sela-sela pohon, paling cuma daun-daun yang tertiup angin. Suara-suara aneh, mungkin suara binatang malam."

Aku mengacungkan jempol. "Jadi, enggak keberatan dong jadi penjaga hutan?" tantangku.

"Enggak dong! Menjaga hutan lewat adopsi hutan itu bukan nyeremin, tapi keren banget!"




***


Referensi:

  • https://lingkunganhidup.co/manfaat-hutan-bagi-manusia-dan-lingkungan/
  • https://hutanitu.id/
  • https://harihutan.id/



2 comments:

  1. Kakak keren..Semoga kesadaran masyarakat kita semakin tinggi untuk menjaga kelestarian hutan bersama-sama ya

    ReplyDelete