Tuesday, December 19, 2017

Ibu Rumah Tangga Mengambil 'Cuti', Perlukah?


Cuti dari apa? Memang ibu rumah tangga kerja apa? Bukannya ibu rumah tangga libur 365 hari setahun? Mau cuti seperti orang kantoran, mengajukan cuti ke siapa?

Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga, berarti urusan rumah tangga sehari-hari ada di tanganku. Bangun jam 4.30 pagi, lalu mulai masak air untuk mandi anak-anak, menyiapkan roti bakar untuk sarapan atau menjadikannya bekal jika suami sedang terburu-buru hingga tak bisa sarapan di rumah. Sambil melakukan itu semua, aku juga sholat subuh, mencuci baju (dengan mesin cuci sih) dan mencuci piring sisa semalam. Alhamdulillah jika Defai tidak terbangun. Jika ya, maka berdoa saja dia anteng dan mau duduk manis menonton kesibukan pagi hari kakak-kakak dan orangtuanya.


Jika Defai tidak mau ditinggal dan menginginkan appetizer pagi hari-nya, ya berarti aku harus siap meluangkan waktu minimal setengah jam untuk memberikan ASI. Menunda memberikan ASI? Wew... jangan tanya deh. Ngga akan tenang rumah sampai Defai mendapatkan apa yang dia inginkan. Enak dong bisa lanjut bobo-an sambil terkantuk-kantuk. Masak air dan roti bakar ditangani dulu oleh suami. Konsekuensinya, ya telat deh semuanya... ^^

Lalu setelah suami dan anak-anak berangkat sekolah, apa lagi? Lalu masih ada sederetan panjang tugas kenegaraan lain mengantri untuk diselesaikan. Menyapu, mengepel, belanja, masak, menyuapi bayi, memandikan bayi, dan lain-lain dan lain sebagainya dan seterusnya hingga pergi tidur. Lalu bangun lagi keesokan paginya jam 4.30 dan mengulang rutinitas yang sama over and over again.

Bagaimana jika Defai sedang tidak enak badan? Atau sedang beralih ke nocturnal mode? Siap-siap dong aku terjaga semalaman. Suami ikut menemani, tapi kasihan juga kalau suami begadang setelah seharian kerja di kantor. Aku masih bisa membalas kekurangan tidur dengan ikut tidur sebentar saat Defai tidur siang, meskipun itu artinya berkurang waktuku untuk mengerjakan pekerjaan rumah lain.

Meskipun anak-anak dan suami libur Sabtu Minggu, bukan berarti aku bisa libur juga. Cucian baju tetap ada, apalagi cucian piring. Anak-anak di masa pertumbuhan yang kayanya tiap dua jam lapar terus, jadi ambil piring dan makan lagi dan lagi. Ini berarti aku juga harus sedia makanan setiap saat.

Lelah-kah? Jujur sih, iya hehehe... Menghadapi ini terus menerus setiap hari, rutinitas yang sama lagi dan lagi... membuat aku kadang ingin sejenak... beristirahat.

Dan aku pikir, hey why not?

Aku bukannya menginginkan liburan ke luar negeri atau ke pulau seberang dan berleha-leha di pantai pribadi berpasir putih atau menyepi ke puncak gunung menatap gemerlap bintang di tenangnya malam. Bukan, ngga perlu semewah itu.

Tidak seperti 'yang katanya' ibu-ibu rumahan yang jenuh karena selalu di rumah dan kalau akhir pekan minta keluar rumah, aku sih malah kalau akhir pekan inginnya kuhabiskan di rumah saja. Bawa bayi jalan-jalan ke luar rumah itu bawaannya banyak, jeung! Apalagi Defai sulit makan kalau sudah di luar rumah, jadinya malah bikin senewen.

Aku ingin di rumah saja. Aku hanya ingin bisa bangun tidur sedikit lebih siang dari biasanya. Menikmati mandi dan menggosok badan dengan tenang tanpa diburu-buru. Makan tanpa harus memasak lebih dulu. Bersantai menonton tivi atau membaca buku yang sudah lama ingin kubaca. Tidur siang tanpa diganggu.


Too much to asked for? Ngga juga sih. Defai pasti masih akan clinging ke Bundanya, tapi ada beberapa hal di atas yang mungkin bisa kudapatkan jika kuusahakan. Gimana ya caranya? Mungkin beberapa cara di bawah ini bisa dipakai ya ^^

1. Komunikasikan keinginan cuti kita kepada keluarga. 

Bicarakan keinginan kita dengan suami dan anak-anak (yang sudah cukup besar untuk diajak komunikasi ya) bahwa Bunda juga sesekali ingin beristirahat hihihi... Tentukan waktunya, jangan lama-lama juga kaliiii istirahatnya... Jika mereka setuju dan mendukung, satu pintu gerbang menuju cuti sudah berhasil dilalui. Horeee... Jelaskan juga bahwa bentuk dukungan anak-anak dan suami tidak terlepas dari bersedianya mereka untuk mengulurkan tangan berbagi tugas saat Bunda cuti dari pekerjaan rumah tangga ^^

2. Tentukan strategi untuk bisa 'menghilangkan' tugas-tugas rumah tangga selama cuti. 

Ada tiga tugas besar rumah tangga yang menurutku paling banyak menyita waktu dan tenaga yaitu mencuci baju, mencuci piring dan memasak. Walaupun mencuci baju dengan mesin cuci bisa disambi-sambi, tetap saja total waktu yang terpakai untuk sekali running adalah sekitar 1 jam, dan mesin cuciku masih belum yang keluar langsung kering gitu jadi masih harus jemur-jemur.
Kalau pengin bebas mencuci baju di akhir pekan, cucian kotor harus sudah beres di Jumat malam, atau manfaatkan laundry kiloan selama Sabtu dan Minggu. Kalau mau bebas masak, ya harus sudah menyiapkan stok makanan untuk dua hari itu, atau bujuk suami untuk pesan makanan dari luar saja selama akhir pekan.

3. Delegasikan sebagian pekerjaan rumah tangga kepada anak-anak dan suami. 

Kalau masalah cucian baju dan masak sudah selesai, berarti tinggal satu lagi tugas besar yaitu mencuci piring. Mencuci piring tidak bisa ditunda apalagi kalau piring yang ada terbatas wkwkwk...
Anak-anak juga doyan makan apalagi kalau lagi libur. Ini bisa disiasati dengan meminta anak-anak dan suami untuk mencuci piring dan gelas kotor langsung setelah dipakai.

Lalu masih ada tugas-tugas kecil lainnya seperti menyapu dan mengepel. Jangan salah, tugas-tugas kecil ini juga makan tenaga dan waktu lho, apalagi kalau rumahnya besoaarrr hahaha... Ditambah dengan punya anak kecil yang sedang di tahap ngeberantakin mainan, atau punya bayi yang sedang belajar makan... dan aku punya dua-duanya hmmm...

Aku meminta anak-anak untuk membereskan mainan setelah mereka selesai main. Jika memungkinkan, aku juga meminta anak-anak untuk memilih pekerjaan rumah apa yang mau mereka kerjakan dalam rangka meringankan tugas Bunda-nya. Mungkin Kakak lebih suka menyapu lantai rumah dan Adik maunya menyapu halaman? Ini bagus juga lho untuk menciptakan kemandirian dan tanggung jawab anak-anak. Tentunya jenis pekerjaan yang didelegasikan kepada anak-anak harus disesuaikan dengan usia dan kesiapan mereka ya. Jangan sampai waktu cutiku menjadi ajang latihan karena bisa-bisa nanti malah jadi aku yang harus membereskannya juga, ngga jadi cuti dong nanti. Jika anak-anak belum bisa mengepel, ya jangan diminta membantu mengepel. Belajar mengepel dulu saja dan belajarnya nanti saat aku sedang tidak cuti ^^

4. Bertahanlah dengan sedikit ketidaksempurnaan.

Jangan gemas untuk turun tangan beberes kalau lantai masih sedikit kotor karena anak-anak belum bisa menyapu lantai sebaik aku. Jangan gatal menyalakan mesin cuci saat melihat cucian baju anak-anak menumpuk di keranjang cucian. Bertahanlah, dan nikmati saja cuti di akhir pekan.

Pasti sih, akan ada tambahan pekerjaan rumah saat Senin tiba. Anggap saja, ini sama dengan hari Senin-nya orang-orang kantoran yang pastinya lebih sibuk dari hari-hari lainnya.


Apa sih tujuanku mendapatkan cuti? Hanya untuk mendapatkan kesetaraan hak dengan anak-anak dan suami? Ahaha... tidak sesederhana itu ya. Latar belakangnya mungkin sama, yaitu untuk sejenak membebaskan diri dari rutinitas sehingga diharapkan bisa mendapatkan semangat baru saat kembali bertugas di ranah rumah tangga.

Menjalankan tugas rumah tangga dan mengurus anak dan suami, tak dipungkiri pastinya berbalas pahala yang sangat besar. Kadang hal ini membuat ibu rumah tangga merasa sungkan dan bersalah saat menginginkan 'rehat'. Tapi tugas ini hanya dapat dilaksanakan dengan baik jika sang ibu sehat jasmani, hati dan pikirannya. Tugas yang rutin dan monoton dikerjakan terus menerus 24/7 mungkin memang membuat kita 'hafal' sehingga dapat mengerjakan semuanya 'dengan mata tertutup' dan 'di luar kepala', tapi itu semua tetap membutuhkan tenaga dan menguras pikiran.

Istirahat yang cukup dan berkualitas dapat mengembalikan mood, perasaan gembira dan bahagia, sehingga Bunda dapat kembali bertugas dengan lebih baik.

Jadi, kapan nih mau cuti? ^^




6 comments:

  1. perlu bangeeet, sama mbak aku juga ibu rumah tangga yg tidak punya ART dengan 3 anak. Kadang untuk meminimalisir pekerjaan aku enggak masak wkwkwk... biar ada waktu sedikit buat BW padahal nyekrol timeline fb....)

    ReplyDelete
  2. wkwkwk... setuju emang masak itu makan waktu banget yaaa :D

    ReplyDelete
  3. haha aduuuh ini bagaikan mimpi, kapan yaa kita bisa cutiii ^_^

    ReplyDelete
  4. wah ternyata ibu rumah tangga boleh cuti juga nih ya mbak ^^

    ReplyDelete