Thursday, November 23, 2017

Jangan Marah Saat Anak Berbohong


Jangan marah saat anak berbohong - "Kenapa Aa bohong sama Bunda?" aku berusaha keras tetap merendahkan suara agar terdengar tenang.
"Soalnya aku takut Bunda marah..." ucap anakku pelan.

'Jika anakmu berbohong, itu karena kau menghukumnya terlalu berat...'

Tiba-tiba saja kata-kata itu terlintas di depan mata. Nasihat manis yang acap kali kuhapus begitu saja karena sudah terlalu sering berseliweran di grup whatsapp atau FB.

Untaian nasihat itu masih diikuti oleh kalimat-kalimat lain seperti 'Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena kau tidak memberinya semangat. Jika anakmu kurang berbicara, itu karena kau tidak mengajaknya bicara.', dan seterusnya dan seterusnya. Intinya adalah, semua yang dilakukan oleh anak kita, adalah hasil dari apa yang kita lakukan pada anak kita.


Berbohong diletakkan di urutan pertama. Menurutku, berbohong memang 'kejahatan' tingkat tertinggi. Berbohong, berbuat dan berkata tidak jujur, atau melakukan sesuatu yang memberikan kesan yang lain dari keadaan yang sebenarnya, adalah awal dari rusaknya suatu hubungan. Jika salah satu pihak sudah berbohong, sekaliii saja, akan sulit bagi pihak lainnya untuk bisa percaya. Komunikasi akan mandek. Kasih sayang meluntur. Jika bukan karena cinta tak bertepi, cinta tanpa syarat... hubungan yang telah terbina puluhan tahun bisa saja kandas.

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak percaya. Itu kata peribahasa-nya.

Lalu bagaimana jika yang berbohong adalah anak-anak?

Dulu saat Izzan masih di Taman Kanak-kanak, dia 'suka berbohong'. Tampaknya Izzan belum bisa membedakan kebohongan dengan candaan. Nadanya begitu serius untuk ukuran anak-anak, dan kami sering tertipu. Lalu Izzan tertawa. Kadang kami kesal juga sih. Lalu perlahan kami perkenalkan perbedaan antara kebohongan dan candaan. Bercanda itu sesuatu hal yang lucu, tapi tidak boleh melibatkan kebohongan. Kebohongan sama sekali tidak boleh dibuat bahan bercandaan.

Mengapa sekarang mereka bisa berbohong? Apakah kami menghukum anak-anak terlalu berat?

Kami memang tidak mengharamkan pemberian hukuman. Jika anak-anak melakukan kesalahan pertama kalinya, kami anggap itu sebagai suatu bentuk ketidaktahuan. Hukuman akan kami berikan hanya setelah kesalahan dilakukan di kali kedua. Hukuman juga akan kami berikan jika anak-anak melakukan kekerasan satu sama lain. Bentuk hukuman yang kami berikan bukanlah hukuman fisik, melainkan mencabut kesenangan mereka selama waktu tertentu.

Kapan anak-anak bisa menerima hukuman? Tentunya jika mereka sudah bisa memahami konsep benar dan salah, sebab akibat, tanggung jawab serta makna dari kesepakatan. Saat anak-anak melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, tentu mereka tidak dihukum. Kami akan bicara dan bersepakat bahwa yang mereka lakukan adalah salah dan meminta mereka berjanji untuk tidak mengulangi hal yang sama.

Jadi kapan mereka berbohong? Saat mereka ingin melakukan sesuatu, tapi mereka tahu atau pikir tak akan mendapat izin dari kami. 

Lalu kenapa mereka tetap berbohong juga? Karena takut Bunda dan Ayah marah.


Padahal, kebohongan-kebohongan yang mereka lakukan adalah kebohongan 'konyol'. Misalnya saat Faza bilang bahwa dia 'tidak sengaja' mencolok sedotan ke kotak minuman jus buah yang harusnya untuk bekal ke sekolah. Dia bilang bahwa dia 'tidak sengaja' pegang sedotan dan kotak minumannya, lalu 'tidak sengaja' menusukkan sedotannya. Lalu dengan polosnya dia bertanya, "Jadi boleh diminum ngga, Bun?"

Saat itu aku benar-benar... marah. Bukan karena aku menangkap fakta bahwa dia ingin minum minuman itu padahal dia tahu itu untuk bekal sekolah. Aku marah karena dia berbohong. Aku langsung berkata keras, "Aa bohong! Tidak mungkin bisa sampai kejadian seperti itu!" dan dia langsung bersikap defensif. Semakin kuat aku menekannya untuk bicara jujur, semakin keras bicaraku, semakin dia bertahan dengan kebohongannya.

Contoh kebohongan konyol dari Izzan adalah saat dia menunjukkan gantungan kunci kepadaku. Katanya, gantungan kunci itu tiba-tiba ada di saku celanannya. "Aku ngga tau Bun, tiba-tiba aja ada di saku aku," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Aku menghela napas, tidak habis pikir dengan ucapannya itu. "Itu ngga mungkin banget, De. Ade juga tau ngga mungkin gantungan kunci itu tiba-tiba masuk ke saku Ade. Jadi jujur aja, emang kenapa juga Ade bohong? Emang gantungan kunci itu dari siapa?" ucapku dengan nada yang kuusahakan biasa saja.

"Emm... dikasih teman Bun."
"Ooh. Ya ngga apa-apa koq Ade dikasih teman. Kenapa tadi Ade ngga bilang gitu aja?"
"Aku takut Bunda marah."
Aku menghela napas lagi, "Bunda lebih ngga suka kalau Ade bohong. Lagian kenapa juga Bunda mesti marah kalau Ade dikasi gantungan kunci sama temen ade?"
"Jadi Bunda ngga marah?"
"Ngga." ucapku. Dan Izzan pun lalu asyik memainkan gantungan kuncinya. Dan aku masih tidak habis pikir. Kenapa Izzan berpikir kalau aku akan marah, sampai-sampai dia berbohong?

Silly lies, eh? Tapi bukan berarti bisa dibiarkan begitu saja, bukan? Kami tidak mau kebohongan-kebohongan ini menjadi sesuatu yang biasa untuk mereka. Tapi yang lebih penting, dan luput dari kesadaran kami, bahwa kebohongan ini tidak bisa dihadapi dengan kemarahan.

Bahkan saat jelas-jelas tertangkap basah pun, anak-anakku masih bisa berbohong. Izzan meninggalkan keran wastafel tetap mengalir, dan suamiku melihatnya. Apakah wajah suamiku menunjukkan ekspresi menakutkan saat dia bertanya kepada Izzan? Izzan mengelak habis-habisan dan berkata bahwa dia sudah menutup kerannya. Saat aku coba membujuk untuk menghentikan tangisnya dan bertanya perlahan, "Apa Izzan sebenarnya lupa tutup keran, tapi Izzan sudah terlanjur bilang nutup, jadi Izzan terus aja ngga ngaku?", Izzan sempat berkata "Iya". Tapi lalu mengelak lagi saat ayahnya meminta dia untuk tidak mengulangi kesalahannya itu. Izzan berkeras kalau dia tidak salah, dan tidak meninggalkan keran tetap mengalir.

Suatu saat, aku menemukan correction tape-ku rusak, padahal aku simpan dalam selipan buku. Aku tahu yang merusakkannya pasti salah satu dari anak-anakku. Mungkin saat itu mood-ku sedang baik, aku bisa bertanya dengan nada rendah pada kedua anakku. Awalnya tidak ada yang mengaku. Aku menarik napas dan berjanji bahwa aku tidak akan marah. Lalu Faza mengaku. Saat aku bertanya kenapa awalnya dia tidak mengakui perbuatannya, jawabannya adalah, "Aku takut Bunda marah"... oh dear.

Tampaknya, rasa takut akan kemarahan kami menghalangi kejujuran mereka. Bukan rasa takut akan hukuman. Hukuman yang diberikan atas dasar kesepakatan, dapat mereka terima dengan baik. Cemberut, tapi tetap diterima.

Padahal aku ingin mereka bisa datang kepadaku dengan segala cerita tanpa rasa takut. Jika mereka datang kepadaku dengan cerita bohong, siapa yang tahu sebanyak apa cerita-cerita yang tidak mereka bagi denganku, dengan suamiku? Jika ini dibiarkan terus, kepada siapa nanti mereka akan berpaling jika mereka menghadapi masalah tapi mereka 'takut Ayah dan Bunda marah'?


Jadi apa yang harus kami lakukan untuk membangkitkan kejujuran mereka?

Aku dan suami harus berusaha untuk mengendalikan amarah. Jika mereka datang dengan kebohongan, atau kami menemukan tanda-tanda kebohongan dalam cerita mereka, entah mengapa rasa marah itu cepat sekali tersulut. Kami harus berusaha untuk menarik napas dan menunda bicara jika perlu. Ucapan yang keluar saat marah, biasanya bernada tinggi dan ternyata membuat anak ketakutan. "Kalau Bunda marah, aku merinding," aku Faza suatu waktu, ucapannya ini membuatku tertegun.

Doa saat marah adalah doa kepada Allah agar kita dijauhkan dari godaan syetan yang terkutuk. Saat marah, syetan memang mudah masuk dan membuat kita khilaf. Khilaf bahwa anak-anak harus dijaga hatinya, agar mereka bisa nyaman dekat dan bicara orangtuanya bahkan saat mereka melakukan kesalahan.

Jika marah sudah dirasa, kami akan mencoba untuk berkata, "Kita bicarakan lagi nanti..." dan memberi waktu yang pasti untuk benar-benar membicarakannya dalam keadaan hati yang tenang.
Sudah terbukti bahwa nada yang rendah lebih bisa mencapai hati mereka. Dan semoga dapat menjadikan mereka pribadi-pribadi yang jujur. Kejujuran yang tumbuh secara alami, bukan dipaksakan dibawah ketakutan.






2 comments:

  1. Ntahlah ini beda kasusnya atau enggak. Tapi sama-sama nggak berani jujur. Ceritanya aku lihat tetesan darah di lantai. Aku curiga adek aku main benda tajam dan luka. Pas aku tanya, dia gak ngaku. Ternyata benar mba, luka karena gunting. Aku tanya kenapa gak jujur atau bilang kalau luka. Alasannya takut diobatin, sakit kena obat merah. Kayaknya poin dari kejujuran anak adalah komunikasi yang baik ya mba. Ah aku belajar banyak nih. Ilmu buat masa depan, muhehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya benar. Takut pada rasa sakit atau trauma tertentu juga bisa membuat anak-anak berbohong. Sama juga seperti pada orangtua sih. Misalnya kita sakit gigi tapi takut ke dokter gigi, jadi kita membohongi pasangan kita, bilang kalau gigi kita ngga sakit. Hehehe.
      Pada anak ini bisa jadi lebih bahaya ya, karena kalau mereka 'menyembunyikannya', sakit mereka bisa jadi lebih parah, infeksi, atau komplikasi. Orangtua harus lebih peka dan sabar ya :)

      Delete