Thursday, November 17, 2016

Siapa yang Paling Disayang oleh Ayah dan Bunda?




“Yah, siapa yang paling Ayah sayang sekarang? Aa, Kaka atau Ade Bayi?” Anak pertamaku bertanya pada ayahnya.

Aku yang sedang terkantuk-kantuk menyusui Ade Bayi, tersentak. Ade Bayi menggeliat sedikit. Aku tepuk-tepuk pelan dan dia memejamkan mata, menyusu lagi.

Malam itu, suamiku sedang bersama dua anakku di kamar mereka.  Aa si sulung berusia 9 tahun dan adiknya Kaka berusia 7 tahun, sedang main balap mobil-mobilan dan suamiku menjadi jurinya. Aku sedang berada di ruang tengah, namun bisa mendengar dengan jelas gelak tawa dan obrolan mereka. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Aa bertanya seperti itu. Aku bisa membayangkan suamiku juga sama terkejutnya seperti aku. Aku dengar dia berdehem, dan kupasang telingaku.


“Sayangnya Ayah sama buat semuanya. Sayang bangettt!” ujar suamiku.

“Koq bisa Yah? Aku kan paling besar. Ade Bayi masih kecil banget. Masa sayangnya sama?” si Aa terdengar penasaran.

“Lha iya sama aja. Memang sebelum ada Ade Bayi, sayangnya Ayah ke Aa sama ke Kaka beda?” suamiku bertanya balik, agak bingung juga.

“Iya, hehe. Ayah kan lebih sering marah sama aku, jadi Ayah lebih sayang Aa,” sahut Kaka, si nomor dua, suaranya ringan.

Di ruang tamu, aku terdiam. Suamiku juga terdiam, lalu terdengar dia menarik napas. “Ayah ngga akan marah sama Kaka kalau Kaka menurut. Kalau Kaka sudah tahu mana yang baik dan mana yang ngga baik, dan tetep ngga menurut ya Ayah ngga suka. Kaka kan tahu, marahnya Ayah itu berarti sayang. Ayah ingin Kaka jadi anak baik. Ayah sering bilang gitu kan?” suamiku menjelaskan.

“Hehe… Iya. Eh Ayah, kalau marahnya Ayah tanda sayang, berarti Ayah paling banyak sayangnya buat aku dong,” tawa si Kaka. Aku tersenyum. Dasar anakku itu. Ngga pernah mau kalah!

Tidak bisa dipungkiri, hadirnya Ade Bayi kecil dalam keluarga kami sangat menyita waktu dan perhatianku dan suamiku. Apalagi kehadirannya terjadi tiba-tiba. Walaupun tentunya disyukuri sebagai berkah, kekhawatiran kadang muncul tentang bagaimana caranya kami bisa membagi perhatian untuk ketiga anak kami nanti. Berbeda dengan kedua anak pertama kami, mereka practically sepantar, sehingga dalam banyak hal mereka diperlakukan kurang lebih sama, mendapat perhatian yang sama.

Sejak hamil, aku dan suamiku sudah mempersiapkan kedua anakku bahwa akan ada adik baru, dan nanti Bunda mungkin akan lebih banyak memperhatikan Ade Bayi. Aa dan Kaka harus lebih sabar, kalau nanti Bunda mungkin lebih banyak bermain dengan Ade Bayi (Duhh... maaf ya Aa dan Kaka! Belum apa-apa kami sudah meminta kalian untuk mengerti dan mengalah…)

Di satu sisi, aku merasa tenang melahirkan anak ketiga di saat usia kedua anakku sudah 9 dan 7 tahun. Mereka sudah cukup besar untuk diberi pengertian. Usia keduanya yang tidak berjauhan juga menjadikan mereka best friends. Kalau aku dan suami sedang sibuk dengan adik bayi, mereka masih punya satu sama lain, kan?

Tapi anak-anak tetaplah anak-anak. Bahkan best friends pun kadang tak sepaham juga, kan? Apalagi ini adalah dua anak laki-laki yang sedang berada di tahap usia tidak mau mengalah, tinggi ego dan tinggi keakuannya. Mainnya ribut, bertengkarnya ya lebih ribut lagi. Dan nasib jadi anak bungsu, adalah selalu keberisikan oleh tingkah polah kakak-kakaknya.

Kesal ngga sih, kalau Bundanya sudah pegal menggendong Ade Bayi yang rewel dari siang sampai malam, dan saat bayi mulaaaiii pulaaass, diletakkan dengan hati-hati di kasur…  tiba-tiba DOR!! Balon meletus dari kamar depan. Ade Bayi pun menangis lagi. Dan Bunda gagal istirahat. Haduuhhh!!

Marah ngga sih, kalau saat Ade Bayi baru saja tidur siang dan Bunda baruuu saja mulai punya waktu untuk beres-beres rumah yang berantakan, makan siang belum dimasak, cucian baju belum dijemur... tiba-tiba anak-anak pulang dan masuk rumah sambil teriak “Assalamu’alaikum, Buuun!” Bukannya menjawab salam, yang ada malah Bunda melotot karena Ade Bayi bangun, menangis dan minta digendong lagi. Aduduhh…

Tapiii, ada #dilema di sini. Jika mereka sampai bertanya, siapa yang paling kami sayangi, apakah itu berarti mereka merasa insecure tentang posisi mereka di mata kami? Apa mereka secara tidak sadar merasa terancam oleh kehadiran Ade Bayi? Adakah sikap kami membuat mereka berpikir seperti itu? Padahal sungguh, kami berusaha untuk bersikap adil. Tapi, apa belum cukup?

“Kenapa Ade Bayi harus diperhatikan terus, Bun?” tanya Kaka dulu, sebelum Ade Bayi lahir.

“Yaaa, Ade Bayi kan masih kecil banget. Belum bisa apa-apa. Belum bisa mamam sendiri, belum bisa pakai baju sendiri, belum bisa mandi sendiri seperti Kaka. Semuanya harus dibantu. Kaka juga dulu seperti itu.”

“Belum bisa main, ya?”

“Iya, belum bisa main seperti Kaka. Mainnya baru sama Bunda dan Ayah dulu. Kaka kan ada Aa, kalian bisa main bareng.”

“Nanti aku bakal main juga sama Ade Bayi, boleh ngga Bun?” tanyanya bersemangat.

Sungguh merupakan berkah lainnya, kedua anakku menerima dengan baik kehadiran Ade Bayinya. Mereka juga sibuk menyiapkan nama dan memilih pernak-pernik bayi. Saat Ade Bayi lahir, sorot mata Kaka sangat tulus mengagumi Ade Bayinya.

“A, Aa iri ngga sama Ade Bayi?” tanyaku suatu malam. Ade Bayi sedang digendong suamiku dan aku sedang mengusap-usap punggung Aa sebelum ia tidur, kebiasaan yang sudah lama tak aku lakukan sejak ada Ade Bayi.

“Iri kenapa, Bun?”

“Yahh, soalnya sekarang Ayah dan Bunda lebih sering sama Ade Bayi. Aa ngga apa-apa?”

“Ngga apa-apa, Bun. Kan Bunda perhatian juga sama aku. Aku ngga iri.” sahutnya sambil mengantuk.

Padahal, rasa bersalah sering juga datang menyelinap ke dalam hati. Aku sekarang sungguh sulit meluangkan waktu menemani kedua anakku belajar di malam hari, padahal hanya di malam hari mereka punya waktu, dan seringnya mereka ingin belajar hanya dengan Bundanya. Apalagi kalau suamiku pulang larut malam. Pagi hingga maghrib sudah habis waktu mereka untuk sekolah dan mengaji. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya sudah sulit sekali menahan kantuk selepas jam 7 malam, hasil dari seharian mengurus rumah dan Ade Bayi. Kadang kupaksakan untuk menemani belajar, tapi rasa lelah dan kantuk membuat kesabaranku menipis. Kaka yang belum lancar membaca akhirnya menjadi sasaran. Dilema? Iya. Dan aku hanya bisa menyesal saat Kaka terisak karena kumarahi.

Kami memang bukan orangtua yang menabukan marah pada anak. Apalagi kami sudah membuat perjanjian yang jelas dengan mereka, bahwa hanya jika mereka melakukan sesuatu yang mereka tahu tidak baik, baru kami akan marah. Marahnya kami tidak mencelakakan, tanpa hukuman fisik dan tidak merendahkan. Tapi marah karena habisnya kesabaran? Karena kelelahan? Aku pun bahkan tidak bisa membenarkan itu.

Bagaimana jika mereka memang benar-benar melakukan kesalahan? Aku harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata. Jangan sampai terbersit kesan sedikit pun, bahwa marahnya aku dilakukan secara tidak adil. Mungkin kekhawatiranku berlebih, tapi aku tidak mau kedua anakku mendapat kesan bahwa sekarang aku mudah marah karena ada Ade Bayi dan Bunda lelah karena mengurus Ade Bayi lalu melampiaskannya pada kakak-kakaknya… Oohh.. jangan sampaiii… Aku tak mau mereka berbalik tidak sayang pada Ade Bayi karena aku tidak bisa mengendalikan emosiku.

“Ka, Bunda sering marah-marah ya sekarang?” ucapku pelan saat memakaikan baju untuk Ade Bayi. Kaka yang suka melihat prosesi mandi Ade Bayi, mengangguk.

“Kaka sedih ngga kalau Bunda marah-marah?”

“Sedih…” ucapnya pelan.

“Maaf ya, kemarin Bunda marah-marah. Bunda berusaha deh ngga marah-marah lagi.”

“Kalau Bunda masih marah-marah?”

“InsyaaAllah ngga akan, kalau ngga perlu,” ucapku sambil tersenyum. Kuciumi pipi Ade Bayi yang harum segar sehabis mandi.

“Bun, dulu waktu aku kecil, aku sering disun juga seperti Ade Bayi?” tanya Kaka.  

Aku tersenyum. “Iya dong. Kenapa? Kaka mau disun juga? Siniiii…” tanganku mengembang seperti hendak menangkapnya. Kaka menggeleng-geleng kepala, tergelak tapi tidak beranjak dari tempatnya.
 
“Mmmuah… nah, sudah Bunda sun. Mau lagi?”

“Hihihi… mauuu...” ujarnya malu-malu.

Komunikasi yang baik sungguh besar peranannya dalam menghadapi #dilema yang kami hadapi ini. Beruntung juga kami membiasakan anak-anak untuk mengkomunikasikan perasaan mereka secara terbuka, jangan sampai ngambek dan pundung tanpa bicara. Jika Aa tidak bertanya, siapa anak yang paling disayang Ayahnya, kami mungkin tidak akan pernah berpikir untuk mengkaji-ulang dan memperbaiki sikap terhadap anak-anak kami yang lebih besar. Mereka juga masih perlu perhatian dan kasih sayang. Kadang masih ingin bermanja-manja. Terlalu banyak meminta pengertian mereka, meminta mereka selalu mengalah untuk Ade Bayi, tidaklah adil. Kami juga meningkatkan intensitas perhatian kami. Genggaman tangan, usapan di kepala, kecupan di pipi sebelum berangkat sekolah dan duduk bersama saat makan malam. Bentuk perhatian yang sederhana, tapi mudah-mudahan mengena di hati.

Jadi siapa yang paling disayang Ayah dan Bunda? Pertanyaan ini tidak lagi menimbulkan dilema untuk kami :)

My handsome knights in shining armors, protecting their little baby princess :)


***



Tulisan ini diikutsertakan pada “Lomba Blog “DILEMA” 

16 comments:

  1. betul mbak astrid, komunikasi yg baik bisa meluruhkan kecemburuan antar kakak adik... aku sulung 6 bersaudara, jarak adikku yg paling dekat 7 taun... yg bungsu kelas 1 smp... alhamdulillah kami kenyang sama kasih sayang dari ibu, jadi semua akuuuur

    good luck untuk giveawaynya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Maria. Walaupun kadang bicaranya bercampur dengan nangis sampe sulit dimengerti, tapi mereka belajar untuk jelas mengungkapkan perasaannya. Makasih ya Mba :)

      Delete
  2. kayaknya anakku yang sulung gak protes kalau aku lebih memperhatikan adiknya, mungkin karena dia baisa main sendiri kali ya, tapi sekarang sudah paad besar mereka saling menyayangi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah hebat, dong! Menurut aku sih, tergantung sama usia si anak saat mendapatkan adik, juga usaha ortu untuk ngasi pengertian dan perhatian yang adil sama semua anak-anaknya ya. Terima kasih sudah mampir ya, Mba :)

      Delete
  3. saya jadi inget si sulung saya pernah bilang gini,"kok aku sekarang jarang di peluk." feeling quilty ...saya memang jarang meluk karena adiknya maish kecil kan enak tuh diuwel uwel kalauudah gede asa kagok ngeuweluwelna *uwel uwel itu meluk sambil ngilikitik-istilah saya hahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kadang kita melihat mereka udah besar, padahal mungkin kadang mereka masih ingin manja-manja sama kita ya :) Bukan karena manja tapi karena ingin dekat..

      Delete
  4. Mba Tyaaa, dalem bgt sih ceritanya huhuhu, aq jd inget waktu kecil duluu :) TFS ya mba, salam buat 2 knights n beautiful armor :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. makasih Mba Des, iya nanti disampaikan salamnya :)

      Delete
  5. semoga semua menjadi anak yang berbakti kpada orang tua,..
    vinz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiinn.. terima kasih atas kunjungannya :)

      Delete
  6. I feel you, Mba Astrid :')
    Aku anaknya dua, termasuk jarak dekat lah, dua tahun lebih.
    Yang paling berasa adalah pas mau bobo. Karena adeknya masih nenen, otomatis aku kan miring ke dia buat nyusuin. Eh, suatu kali Kakaknya protes, "Aku sedih lah masa tiap mau tidur dapetnya punggung Bunda terus".

    Huwaaaa, aku nangis Mba. Langsung aku peluk dia T___T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang rasanya kalau bisa kita dibelah dua aja ya Mba, supaya bisa untuk semuanya.. bisa untuk Kakak, bisa untuk Adek, bisa nyetrika, bisa nyuci piring... eh koq malah curhat hehe...

      Delete
  7. Anak pertama saya sempat protes tentang hal ini. Tapi memang komunikasi yang baik jawabannya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang komunikasi yang baik bisa menyelesaikan hampir semua masalah ya Mba.. Makasih udah mampir :)

      Delete
  8. Ponakanku dua laki-laki, jarak umur sekitar tiga tahun, sejak kecil suka saling iri, tapi setelah gede ya kelar sendirinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah atuh kalo iri-irian nya udahan pas gede ya. Udah lebih dewasa yaa :)

      Delete